GUNUNG TAMPOMAS
#26-27 AGUSTUS 2015
Dalam keadaan kurang persiapan dan mendadak karena awalnya saya tidak akan ikut naik gunung, teman saya nge bbm ngajak untuk naik, kebetulan saya juga ingin merasakan bagaimana rasanya naik gunung, dan berada di ketinggian , akhirnya saya meluncur ke kota sumedang , kumpul di alamsari, nunggu teman agak lama akhirnya datang juga, kita langsung berangkat ke cimalaka, buat star naik gunung, langsung kita naik angkot..
Sampailah kita di galian pasir di Desa cibeureum kec, cimalaka. Dari sana kita harus berjalan kaki lumayan agak nanjak, sampailah kita di portal, kebetulan ada warung kita jajan dulu, setelah istirahat kita lanjutkan perjalanan, singkat cerita kita sudah ada di pos satu, dari pos satu ke pos dua sangat lama, dan jauh jaraknya , kita mulai mendaki gunung dengan tenaga ekstra, jalur yang ekstrim dan terjal membuat kami kelelahan, sepanjang perjalanan kami banyak istirahat, apalagi ketika kami sudah mencapai tanjakan sanghiang taraje dan sanghiang tikoro, luar biasa, jalur nya sangat ekstrim dan berbahaya, selain membutuhkan tenaga ekstra , dibutuhkan pula kehati hatian, dan konsentrasi serta mental yang kuat, walaupun saya sedikit takit untuk melewati tanjakan tsb, karena takut jatuh , apalagi tanjakan sanghiang taraje dan sanghiang tikoro kemiringannya sekitar 80 derajat, dengan penuh keberanian akhirnya saya bisa menaiki tanjakan tersebut, singkat cerita sampai lah kita di puncak gunung tampomas, alhamdulilah, perjalanan dari bawah sampai puncak sekitar 5 jam perjalanan, kami langsung berpoto ria di puncak tampomas , malam pun tiba, udara mulai dingin. Lampu di bawah terlihat berkelip di kota sumedang menambah indahnya suana malam, bulan dan bintang menyinari malam yg indah, saya tak bisa tidur karena gak ada tempat , yg mengharuskan saya tidur diluar ,Udara dingin yg luar biasa saya perkirakan sekitar 0 derajat sampai -3 derajat celcius, dinginya sampai menusuk tulang, sampai tangan saya beku seperti di dalam lemari es, akhirnya saya dan teman, menghangatkan badan dengan bara api di tungku, sambil minum kopi , sampai pagi,
Pagipun tak kalah dingin. Pagi diselimuti embun dan kabut menambah suana, eksotis seperti di film kerajaan, sebelum pulang kami berziarah dulu ke petilasan Prabu Siliwangi, tempatnya di sebelah timur puncak, suasana mistis pun sangat kental, dengan aura yg membuat bulu kuduk merinding, konon banyak orang berziarah pada saat malam jum’at. Ini terlihat dengan adanya saung di sekitas petilasan atau makam,



Tidak ada komentar:
Posting Komentar