Nama Tarikolot sudah
muncul sejak jaman klasik,ada sumber yang menyebutkan bahwa Desa Tarikolot
berdiri sejak jaman Prabu Tajimalela (Raja Sumedang Pertama). Tarikolot pada masa jaman Kerajaan Sumedang Larang berada dalam Wilayah
Kekuasaan Kerajaan Pawenang, Tarikolot pada waktu itu terletak di dalam Dusun
Tarikolot Hilir sekarang masuk ke Wilayah Desa Sirnasari.
Nama Tarikolot berasal dari “NARIKOLOT” yang artinya daerah yang “ SEPI SENYAP “, seperti usia manusia yang menuju senja karena usia keberadaan wilayah yang sudah lama muncul. Dalam satu versi kepercayaan di daerah Tarikolot ini peradaban daerah Sumedang sebelah selatan.
Mengenai sejarah perjalanan dari masa ke masa sangatlah sedikit sumber yang mencatat sumber lisan atau cerita dari mulut ke mulut. Cuma sedikit keterangan dari para “SESEPUH” Desa Tarikolot yang masih tercatat yaitu sekitar pertengahan Abad 19 ( 1860 M ) ketika Pemerintahan Pawenang berubah menjadi sebuah Pemerintahan Desa, terjadi pemekaran yaitu terbentuknya Desa Tarikolot yang berpusat di Leuwisari (Leuwi Anjing) pada saat itu tercatat bahwa Kepala Desa Tarikolot adalah masih kerabat Kepala Desa atau Kuwu Pawenang.
Kunjungan Bupati Sumedang (Pangeran Mekah) pada sekitar tahun 1880 an menandai terbentuknya pusat Pemerintahan baru yang berpindah dari Leuwisari ke Kampung Babakan (sekitar Bojongjati sekarang). Bupati Sumedang melantik Kuwu Pertama Desa Tarikolot yang bernama ENGKING NATAWIRYA sebagai pembentuk/pendiri Pemerintah Desa Tarikolot yang pada saat itu berada dibawah Pemerintahan Kecamatan Wado ( sebelumnya pusat Pemerintah berada di Pawenang ).
Kehidupan Masyarakat Desa Tarikolot mulai mengalami kemajuan dalam segala bidang pada masa Pemerintahan Kuwu/Kepala Desa ke – 2 yang bernama MAS KUWU ARSAWIJAYA masih kerabat dari Kuwu Pertama. Pemerintahan Kuwu Arsa Wijaya diperkirakan pada awal abad 20 (1900 M) pada masa itu diberlakukan system Pemerintahan Liberal oleh Kolonial dimana kaum pengusaha swasta mulai menanamkan modalnya di tatar Pasundan, masa itu dkenal atau disebut juga jaman normal.
Nama Tarikolot berasal dari “NARIKOLOT” yang artinya daerah yang “ SEPI SENYAP “, seperti usia manusia yang menuju senja karena usia keberadaan wilayah yang sudah lama muncul. Dalam satu versi kepercayaan di daerah Tarikolot ini peradaban daerah Sumedang sebelah selatan.
Mengenai sejarah perjalanan dari masa ke masa sangatlah sedikit sumber yang mencatat sumber lisan atau cerita dari mulut ke mulut. Cuma sedikit keterangan dari para “SESEPUH” Desa Tarikolot yang masih tercatat yaitu sekitar pertengahan Abad 19 ( 1860 M ) ketika Pemerintahan Pawenang berubah menjadi sebuah Pemerintahan Desa, terjadi pemekaran yaitu terbentuknya Desa Tarikolot yang berpusat di Leuwisari (Leuwi Anjing) pada saat itu tercatat bahwa Kepala Desa Tarikolot adalah masih kerabat Kepala Desa atau Kuwu Pawenang.
Kunjungan Bupati Sumedang (Pangeran Mekah) pada sekitar tahun 1880 an menandai terbentuknya pusat Pemerintahan baru yang berpindah dari Leuwisari ke Kampung Babakan (sekitar Bojongjati sekarang). Bupati Sumedang melantik Kuwu Pertama Desa Tarikolot yang bernama ENGKING NATAWIRYA sebagai pembentuk/pendiri Pemerintah Desa Tarikolot yang pada saat itu berada dibawah Pemerintahan Kecamatan Wado ( sebelumnya pusat Pemerintah berada di Pawenang ).
Kehidupan Masyarakat Desa Tarikolot mulai mengalami kemajuan dalam segala bidang pada masa Pemerintahan Kuwu/Kepala Desa ke – 2 yang bernama MAS KUWU ARSAWIJAYA masih kerabat dari Kuwu Pertama. Pemerintahan Kuwu Arsa Wijaya diperkirakan pada awal abad 20 (1900 M) pada masa itu diberlakukan system Pemerintahan Liberal oleh Kolonial dimana kaum pengusaha swasta mulai menanamkan modalnya di tatar Pasundan, masa itu dkenal atau disebut juga jaman normal.
Dalam bidang perekonomian ditandai dengan
didirikannya Perkebunan The di sekitar Pasirpadang dan Rancamaneuh pada tahun
1912. Pada saat itu seolah- olah pusat kehidupan Masyarakat Kecamatan Wado
berpindah ke Rancamaneuh karena selain pusat perekonomian juga sebagai pusat
hiburan di dukung pula banyak warga dari luar daerah yang bekerja di pabrik the
tersebut. Keindahan pemandangan alamdan kesuburan tanah Desa Tarikolot yang
kaya akan khasanah panorama yang alami sangat menunjang kemajuan kehidupan
masyarakat Desa Tarikolot pada masa itu.
Sejalan dengan Pemerintahan Bupati Sumedang Pangeran Suriaatmadja
(Pangeran Mekah) yang sedang mengembangkan pertanian hal ini di dukun g oleh para
tokoh dan masyarakat Desa Tarikolot hal ini dapat di lihat sampai sekarang
dimana tanah – tanah di Tarikolot yang memiliki kemiringan tetap memiliki
kesuburan karena telah diterapkan Terasering dan mengubah pertanian huma
menjadi system persawahan yang lebih subur karena telah menggunakansistem
irigasi saluran air yang tertata.
Pada masa itu diberlakukan pula politik etis atau polotik balas budi dari Kolonial terhadap kaum Pribumi. Pada awal abad 20 Tarikolot telah mengenal system irigasi dan pendidikan (Edukasi) walau terbatas pada tingkat – tingkat masyarakat kelas atas pendidikan sedikitnya telah merubah pola piker masyarakat Desa Tarikolot pada masa itu.
Desa Tarikolot maju pesat dan menjadi pusat Pemerintahan Kecamatan Wado hal ini di dukung oleh kemampuan Kepala Desa yang Kharismatis dan Tokoh Masyarakat yang dapat menggerakan seluruh lapisan masyarakat yang “ Sa Uyunan” bergotong royong dalam pembangunan, maupun menerapkan nilai-nilai peraudaraan dan nilai budaya leluhur yang mampu menjadi factor utama dalam pembangunan.
Pada masa Revolusi Kemerdekaan 1945 – 1949 Daerah Tarikolot di jadikan basis perjuangan terutama setelah pasukan Siliwangi hijrah dari Yogya. Masyarakat Desa Tarikolot mengakui kekuasaan dan mempertahankan Negara Republik Indonesia walaupun pada saat itu perekonomian masyarakat sangat murat marit akibat perang. Setelah peralihan masa orla ke orba Tarikolot kembali muncul sebagai Pemerintah Desa yang dikatakan maju pada masa kepemimpinan Kuwu/Kepala Desa bernama SUWINTA dan dilanjutkan oleh SAMJI.
Pada masa itu diberlakukan pula politik etis atau polotik balas budi dari Kolonial terhadap kaum Pribumi. Pada awal abad 20 Tarikolot telah mengenal system irigasi dan pendidikan (Edukasi) walau terbatas pada tingkat – tingkat masyarakat kelas atas pendidikan sedikitnya telah merubah pola piker masyarakat Desa Tarikolot pada masa itu.
Desa Tarikolot maju pesat dan menjadi pusat Pemerintahan Kecamatan Wado hal ini di dukung oleh kemampuan Kepala Desa yang Kharismatis dan Tokoh Masyarakat yang dapat menggerakan seluruh lapisan masyarakat yang “ Sa Uyunan” bergotong royong dalam pembangunan, maupun menerapkan nilai-nilai peraudaraan dan nilai budaya leluhur yang mampu menjadi factor utama dalam pembangunan.
Pada masa Revolusi Kemerdekaan 1945 – 1949 Daerah Tarikolot di jadikan basis perjuangan terutama setelah pasukan Siliwangi hijrah dari Yogya. Masyarakat Desa Tarikolot mengakui kekuasaan dan mempertahankan Negara Republik Indonesia walaupun pada saat itu perekonomian masyarakat sangat murat marit akibat perang. Setelah peralihan masa orla ke orba Tarikolot kembali muncul sebagai Pemerintah Desa yang dikatakan maju pada masa kepemimpinan Kuwu/Kepala Desa bernama SUWINTA dan dilanjutkan oleh SAMJI.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar