ASAS DAN FUNGSI KEPEMIMPINAN TUGAS-TUGAS
PEMIMPIN
KATA PENDAHULUAN
Setelah sepuluh tahun
mengalami uji-hidup di tengah masyarakat, maka tiba saatnya pada tahun 1992
buku Pemimpin dan Kepemimpinan ini mendapatkan giliran untuk
direvisi secara total.
Kata-kata banyak yang
diganti dan diperjelas, kalimat-kalimatnya diubah dan diperkaya supaya lebih
mudah untuk dibaca. Bab-bab dalam buku ini di make-upsedemikian
rupa sehingga bisa lebih gampang dipahami dan direnungkan kembali. Dengan
demikian buku ini mendapatkan wajah yang “lebih cantik”, sedang isinya menjadi
lebih mudah untuk ditelaah.
Adapun tujuan utama
dari revisi buku ini ialah : “lebih readable”, yaitu lebih menarik
dan lebih gampang untuk dibaca, sehingga pemahaman dan penafsiran isinya
menjadi lebih jelas gamblang.
Dalam perjalanan
sejarah manusia yang maha panjang itu, pemimpin hampir selalu menjadi fokus
dari semua gerakan, aktivitas, usaha, dan perbahan menuju pada kemajuan (progress)
di dalam kelompok atau organisasi. Dia merupakan agen primer untuk menentukan
struktur kelompok/organisasi yang dibinanya, juga memberikan motivasi kerja,
dan menentukan sasaran bersama yang akan dicapai. Ringkasnya, pempinpin
merupakan inisiator, motivator, stimulator, dan invator dalam
organisasinya. Sedang kemunculan dirinya itu pada umumnya terjadi mulai banyak
cobaan dan tantangan di tengah kehidupan. Lagi pula fungsi pemimpin itu
merupakan kebutuhan yang muncul dari satu situasi
khusus, misalnya : masa krisis, perang, revolusi, transisi sosial,
kondisi ekonomi, dan lain-lain.
Superioritas pribadinya
itulah yang menjadi unsur kekuatan dirinya, yang jelas menjadi rangsangan
psikososial, dan menerbitkan respons kolektif dari anak buahnya. Kekuatan
sedemikian itu mampu mendominir lingkungannya; dan sifatnya konsultatif,
koordinatif, membimbing, sehingga anak buah menjadi patuh pada dirinya,
menghormat, bersikap loyal, dan bersedia bekerja sama dengan semua anggota.
Kepemimpinan merupakan kekuatan
aspirasional, kekuatan semangat, dankekuatan moral yang
kreatif, yang mampu mempengaruhi para anggota untuk mengubah sikap, sehingga
mereka menjadi konform dengan keinginan pemimpin. tingkah laku kelompok atau
organisasi menjadi searah dengan kemauan dan aspirasi pemimpin oleh pengaruh
interpersonal pemimpin terhadap anak buahnya. Dalam kondisi sedemikian terdapat
kesukarelaan atau induksi pemenuhan-kerelaan (complianceinduction)
bawahan terhadap pemimpin; khususnya dalam usaha mencapai tujuan bersama, dan
pada proses pemecahan masalah-masalah yang harus dihadapi secara kolektif. Jadi
tidak diperlukan pemaksaan, pendesakan, penekanan, intimidasi, ancaman atau
paksaan (coersive power) tertentu.
Tetapi pada saatnya,
di tengah kelompok itu akan muncul seorang tokoh sentral sebagai pemimpin, yang
memiliki kualitas-kualitas unggul. Kualitas superior dan pribadi pemimpin tadi
sebagian sangat bergantung pada faktor keturunan, dan merupakandisposisi
psikofisik/rohani/jasmani yang herediter sifatnya,
yaitu berupa inteligensi, energi, kekuatan tubuh, kelenturan mental, dan
keteguhan moral. Dan sebagian lagi dipengaruhi oleh lingkungan
sosio-kultural dan kondisi zamannya. Maka pemimpin
itu adalah produk interaksi antara sifat-sifat karakteristik individu dengan
tempaan dan tuntutan situasi zamannya (waktu, ruang/ tempat, situasi sesaat).
Kekuatan dan
keunggulan sifat-sifat pemimpin itu pada akhirnya merupakan perangsang
psikososial yang bisa memunculkan reaksi-reaksi bawahan secara kolektif.
Selanjutnya akan dimunculkan kepatuhan, loyalitas, kerja sama, dan respek dari
para anggota kelompok kepada pemimpinnya. Maka kualitas superior tadi menjadi
modal dasar bagi “kekuatan sosial” seorang pemimpin untuk mempengaruhi anak
buahnya.
ASAS DAN FUNGSI
KEPEMIMPINAN
TUGAS-TUGAS PEMIMPIN
RUMUSAN MASALAH
Masyarakat modern
sekarang ini sangat berkepentingan dengankepemimpinan yang baik, yang
mampu menuntut organisasi sesuai dengan asas-asas manajemen modern; sekaligus
bersedia memberikan kesejahteraan dan kebahagiaan kepada
bawahan dan masyarakat luas. Karena itu keberhasilan seorang pemimpin kecuali
dapat dinilai dari produktivitas dan prestasi yang dicapainya,
juga harus dinilai dari kebaikannya; dan tidak boleh melakukan “exploitation
de I’homme par I’homme” (penghisap oleh manusia terhadap manusia)
Sehubungan dengan
luasnya kegiatan manusia modern pada zaman sekarang, dirasakan perlu ada
pemimpin-pemimpin yang efektif dan baik pekertinya. Berkaitan dengan masalah
ini perlu bagi kita untuk memahami asas-asas dan fungsi kepemimpinan, serta
etika profesi pemimpin. Semua itu tercakup dalam teori kepemimpinan.
I. ASAS DAN FUNGSI
KEPEMIMPINAN
Manajemen Modern di dunia bisnis dan
industri, juga kepemimpinan di birokrasi pemerintah serta kepemudaan pada zaman
sekarang tidak bisa dipandang sebagai bentuk perjalanan yang murni hierarkis formal,
manusia modern zaman hierarkis dan objektif formal. Sebab manusia modern zaman
sekarang ini justru berkepentingan sekali dengan kepemimpinan yang baik, dengan
ciri-ciri karakteristiknya yang, formal, pribadi dan individual, yang jelas
dapat dibedakan dari pemimpin yang buruk atau tidak efisien.
Sebabnyapemimpin akan
memproduksi hasil atau “produk” yang baik-bermanfaat, atau justru menghasilkan
“produk” buruk, dalam kaitannya dengan efisiensi organisasi/lembaga juga selalu
dihubungkan dengan kesejahteraan dan kebahagiaan manusia pada
umumnya. Kepemimpinan yang buruk dan tidak efisien di satu perusahaan misalnya,
akan terjadi penurunan produksi buruh menjadi resah dan banyak yang keluar,
absensiisme tinggi. Terjadi banya;k pencurian milik perusahaan, dan banyak
terdapat konflik di kalangan pegawai.
Contoh lainnya, oleh
kepemimpinan yang nonefisien di kalangan organisasi pemuda, akan muncul banyak
ketegangan dan konflik, perpecahan, kekacauan dan tindak-tindakan ekstrem
radikal yang berbahaya secara politis. Maka semua itu bila diukur secara
finansial adalah sangat tidak ekonomis, dan merupakan penghamburan tenaga serta
energi. Dan dilihat dari segi kemanusiaan, maka masalah-masalah sosial
(kericuhan, kekacauan, kejahatan, kesengsaraan, dan lain-lain) yang ditimbulkan
oleh kepemimpinan yang buruk itu adalah tragis (merupakan tragedi).
Kepemimpinan itu
hendaknya jangan terlalu berat dinilai dari segi-segi prestasi materiilnya
saja. Misalnya, pemimpin harus mampu memproduksi barang dagangan sebanyak
mungkin, dan dapat menambah kekayaan perusahaan dalam waktu singkat. Seorang
jenderal mampu memenangkan pertempuran-pertempuran saja (walaupun dengan korban
manusia yang amat besar) dan politikus dinilai hanya dari kekayaan serta
kekuasaan politiknya saja. Akan tetapi, juga harus ikut dipertimbangkan
pengaruh baik atau akibat buruk apa yang mereka timbulkan bagi kesejahteraan
jasmani – rohani anak buah dan pengikut-pengikutnya, atau bagi manusia pada
umumnya.
Dan apakah mereka itu
justru tidak menyebarkan banyak malapetaka serta kesengsaraan-kepedihan di
kalangan bawaan dan masyarakat luas?
Sekali lagi kami
nyatakan, pemimpin itu pada umumnya merefleksikan sifat-sifat dan tujuan dari
kelompoknya. Kelompok kriminil akan memilih seorang pemimpin yang ahli dalam
hal kesejahteraan. Sekumpulan orang muda yang ambisius dan ekstrem radikal,
akan memilih seorang agitator ultraradikal dan patologis sebagai pemimpin
mereka, yang akan menyebar perpecahan, bencana dan teror di tengah masyarakat.
Jadi, pemimpin itu sedikit atau banyak pasti merupakan epitome (ringkasan
pendek) dari sikap mental kelompoknya pada saat itu.
Bagaimanakah fungsi
dan asas kepemimpinan itu? Fungsi kepemimpinan ialah memandu, menuntun,
membimbing, membangun, memberi atau membangunkan motivasi-motivasi kerja,
mengemudikan organisasi, menjalani jaringan-jaringan komunikasi yang baik
memberikan supervisi/pengawasan yang efisien, dan membawa para pengikutnya
kepada sasaran yang ingin dituju, sesuai dengan ketentuan waktu dan
perencanaan.
Dalam tugas-tugas kepemimpinan
tercakup pula pemberian insentif sebagai motivasi untuk bekerja lebih
giat. Intensif materiil dapat berupa uang, sekuritas fisik,
jaminan sosial, jaminan kesehatan, premi, bonus, kondisi kerja yang baik,
pensiun, fasilitas tempat tinggal yang menyenangkan, dan lain-lain juga bisa
diwujudkan dalam bentuk insentif sosial , berupa promosi
jabatan, status sosial tinggi, martabat diri, prestise sosial respek, dan
lain-lain. Insentif sosial disebut pula sebagai insentif imateriil.
Asas-asas kepemimpinan
ialah :
1. Kemanusiaa,
mengutamakan sifat-sifat kemanusiaan, yang pembimbingan manusia oleh manusia,
untuk mengembangkan potensi dan kemampuan setiap individu, demi tujuan-tujuan
human.
2. Efisien, efisiensi
teknnis maupun sosial, berkaitan dengan terbatasnya sumber-sumber, materi, dan
jumlah manusia atas prinsip penghematan, adanya nilai-nilai ekonomis, serta
asas-asas manajemen modern.
3. Kesejahteraan dan
kebahagiaan yang lebih merata, menuju pada taraf kehidupan yang lebih tinggi.
II. TEORI DAN TEKNIK
KEPEMIMPINAN
Selanjutnya, agar
legalitas kepemimpinan dapat diakui dan dilaksanakan dengan sempurna, maka
kepemimpinan itu perlu dilengkapi dengan teknik kepemimpinan. Penguasaan
teknik-teknik kepemimpinan ini akan mendorong setiap pemimpin dan anggota
kelompok untuk melaksanakan segenap tugas dan kewajiban dengan kesadaran serta
tanggung jawab.
Pada bab IB telah
dibahas tema kepemimpinan, yang meliputi (1) Teori kepemimpinan dan (2) Tipe
kepemimpinan, yaitu dengan panjang lebar dikemukakan teori kepemimpinan, yang
menjelaskan pemimpin dan kepemimpian dengan menonjolkan beberapa aspeknya
antara lain ialah :
1. Latar belakang
historis pemimpin dan kepemimpinan
2. Sebab musabab
munculnya pemimpin
3. Tipe dan gaya
kepemimpinan
4. syarat-syarat
kepemimpinan
Sedangkan pada subbab ini akan dibahas
teknik kepemimpinan.
Teknik kepemimpinan
ialah kemampuan dan keterampilan teknis serta sosial pemimpin dalam menerapkan
teori-teori kepemimpinan pada praktik kehidupan serta praktik organisasi,
yaitu: meliputi konsep-konsep pemikiran, sehari-hari, dan semua peralatan yang
dipakai.
Teknik kepemimpinan
dapat juga dirumuskan sebagai cara bertindaknya pemimpin dengan bantuan
alat-alat fisik dan macam-macam kemampuan psikis untuk mewujudkan
kepemimpinannya.
Teknik kepemimpinan
dapat juga dirumuskan sebagai cara bertindaknya pemimpin dengan bantuan
alat-alat fisik dan macam-macam kemampuan psikis untuk mewujudkan
kepemimpinannya.
Dimasukkan ke dalam
kategori teknik kepemimpinan ini antara lain ialah :
1. Etika profesi pemimpin
dan etiket
2. Kebutuhan dan motivasi
(manusia)
3. Dinamika kelompok
4. Komunikasi
5. Kemampuan pengambilan
keputusan
6. Keterampiln berdiskusi
dan “permainan” lainnya
III. ETIKA PROFESI PEMIMPIN
DAN ETIKET
Paul E.Torgersen dalam
bukunya Management, an integrated Approachmenyatakan profesi
sebagai satu lapangan kegiatan d(afield of activity) terdapat lima
kriteria, yaitu :
1. Pengetahuan (knowledge)
2. Aplikasi yang kompeten
(competent application)
3. Tanggung jawab sosial
(social responsibility)
4. Pengontrolan diri
5. Sanksi masyarakat (community
sanction)
Berdasarkan kriteria
di atas, profesi kepemimpinan harus dilandaskan pada paham dasar yang
mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan luhur, yang dijadikan pedoman bagi setiap
pribadi pemimpin. Terutama sekali ialah :
1. Nilai pengabdian pada
kepentingan umum
2. Jaminan keselamatan,
kebaikan, dan kesejahteraan bagi bawaan dan rakyat
3. Menjadi pengikat dan
pemersatu dalam segala gerak upaya
4. Penggerak/ dinamisator
dari setiap kegiatan
Profesi adalah vak,
pekerjaan (beroep) yang dilakukan oleh seseorang. Jika kepemimpinan itu
harus dijadikan satu profesi dan oleh tugas-tugasnya yang berat pemimpin
tersebut mendapatkan imbalan materiil dan imateriil tertentu, maka sebagai
konsekuensinya pada dirinya bisa dikenakan sanksi-sanksi tersebut.
Etika adalah
penyelidikan filosofi mengenai kewajiban-kewajiban manusia, dan tentang hal-hal
yang baik dan buruk jadi penyelidikan tentang bidang moral. Maka etika juga
didefinisikan sebagai filsafat tentang bidang moral.
Etika tidak membahas
kondisi/keadaan manusia melainkan tentang bagaimana manusia itu seharusnya
bertingkah laku. Karena itu pula etika adalah filsafat mengenai praksis manusia
yang harus berbuat menurut aturan dan norma tertentu.
Etika profesi pemimpin
ialah pembahasan mengenai :
1. Kewajiban-kewajiban
pemimpin
2. Tingkah laku pemimpin
yang baik, dan dapat dibedakan dari
3. Tingkahlaku yang
buruk, serta
4. Moral pemimpin
Etika profesi kepemimpinan itu
mengandung kriteria sebagai berikut :
1. Pemimpin harus
memiliki satu atau beberapa kelebihan dalam pengetahuan, keterampilan sosial,
kemahiran teknis, serta pengalaman
2. Sehingga dia kompeten
melakukan kewajiban dan tugas-tugas kepemimpinannya di samping
3. Mampu bersikap susila
dan dewasa. Sehingga dia selalu bertanggung jwab secara etis / susila, mampu
memberdakan hal-hal yang baik dari yang buruk, dan memiliki tanggung jawab
sosial yang tinggi.
Sikap susila / moral
yang dewasa adalah sikap bertanggung jawab berdasarkan kebebasan pribadinya
atau asas otonomi. Dan tanggung jawab moral itu menuntut kepada pemimpin agar
dia terus menerus memperbaiki segala sesuatu yang ada baik yang ada pada diri
sendiri, maupun yang ada di luar dirinya supaya bisa lebih banyak ditegakkan
unsur keadilan-kebahagiaan kesejahteraan yang lebih merata.
4. Memiliki kemampuan
mengontrol diri yaitu mengontrol pikiran, emosi, keinginan dan segenap
perbuatannya, disesuaikan dengan norma-norma kebaikan. Sehingga memunculkan
sikap moral yang baik dan bertanggung jawab
5. Selalu melandaskan
diri pada nilai-nilai etis (kesusilaan keabikan). Sekaligus pemimpin juga harus
mampu menciptakan nilai-nilai yang tinggi atau berarti. Nilai adalah segala
sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhan manusia.
6. Dikenai sanksi. Adanya
norma perintah dan larangan yang harus ditaati oleh pemimpin demi kesejahteraan
hidup bersama dan demi efisiensi organisasi, maka segenap tindakan dan
kesalahan pemimpin itu kesalahan-kesalahan harus segera dibetulkan
pelenggaran-pelanggaran dihukum dan ditindak dengan tegas.
Maka jelaslah, bahwa
setiap kekuasaan dan wewenang pemimpin itu harus berlandaskan keadilan dan
diarahkan pada tujuan menciptakan syarat-syarat dan prasyaratan guna penciptaan
kebahagiaan, ksejahteraan, keadilan bagi masyarakat luas.
Sikap moral pemimpin
adalah sikap yang bertanggung jawab moral, berdasarkan otonomi, yang menuntut
agar dia selalu bersikap kritis dan realistis.
Sikap kritis ini perlu
juga ditujukan kepada macam-macam kekuatan, kekuasaan, dan otoritas yang
terdapat di tengah masyarakat, yang digunakan sebagai cermin perbandingan,
supaya dia tidak melakukan kesalahan, atau tidak salah langkah sosial tersebut,
diharapkan dapat dibangun pola hidup masyarakat yang bahagia sejahtera, dan
semua orang bisa terbebas dari penderitaan serta ketidak adilan.
Dengan demikian etika
profesi pemimpin memberikan landasan kepada setiap pemimpin untuk selalu :
1. Bersikap kritis dan
rasional, berani mengemukakan pendapat sendiri dan berani bersikap tegas sesuai
dengan rasa tanggung jawab etis (susila) sendiri. Maka etika profesi menggugah
pemimpin untuk bersikap rasional dan kritis terhadap semua peristiwa dan norma
termasuk norma tradisi, hukum, etik kerja, dan norma termasuk norma tradisi,
hukum, etika kerja, dan norma-norma sosial lainnya.
2. Bersikap otonom
(bebas, tanpa dipaksa atau “dibeli”, mempunyai “pemerintahan diri”, berhak untuk
membuat norma dan hukum sendiri sesuai dengan suatu hati nurani yang tulus
bersih). Dengan otonomi ini bukan berarti sang pemimpin dapat berbuat semau
sendiri, atau bertingkah laku sewenang-wenang, melainkan dia bebas memeluk
norma-norma yang diyakini sebagai baik dan wajib dilaksanakan, untuk membawa
anak buah pada pencapaian tujuan tertentu.
3. Memberikan
perintah-perintah dan larangan-larangan yang adil dan harus ditaati oleh setiap
lembaga dan individu. Yaitu oleh pemimpin, orang tua, keluarga, sekolah, badan
hukum, lembaga agama, negara, dan lain-lain.
Setiap subjek yang dikenai perintah dan
larangan itu harus bertanggung jawab terhadap setiap langkah dan perbuatannya.
Karena itu, praksis manusia, khususnya perbuatan pemimpin, harus etis, harus
susila dan baik, serta bisa dipertanggung jawabkan.
Selanjutnya, moralitas tinggi di
kalangan para anggota organisasi akan dapat dipupuk, apabila mereka itu merasa
dihargai oleh pemimpinnya, tidak diabaikan, dan mendapatkan pujian. Tentu dari
pemimpin. Terlebih lagi apabila mereka dilibatkan dalam pemecahan masalah dan
kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh organisasi. Dengan demikian akan
tercipta satu tim kerja dengan kesadaran sosial yang tinggi apabila kepada
mereka diberikan :
1. kesempatan untuk
berperan serta secara aktif
2. mereka dapat mengatur
sendiri mekanisme satu tugas sendiri, (tempo, irama kerja, dapat memilih satu
tugas sendiri, metode kerja, dan lain-lain)
maka patut kita ingat,
bahwa kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan respek, rasa aman atau sekuritas,
dan “sense of belonging” (menjadi bagian dari satu kelompok), semua ini
ikut menentukan tingkat moralitas dan produktivitas para anggota. Sehubungan
dengan itu status sosial, fungsi sosial dan respek yang diperoleh seorang dari
pemimpinnya (dan orang lain) itu merupakan titik-titik kritis-gawat bagi
kebahagiaan kesejahteraan lahir batin manusia. Dan semua ini diperoleh orang
dalam satu lingkungan kerja/ bermain –dalam satu organisasi-, dibimbing oleh
pemimpin.
Erat kaitannya dengan
etika profesi kepemimpinan ialah etiket yang harus ditetapkan oleh pemimpin.
Etiket ialah “unggah-ungguh” atau aturan-aturan konvensional mengenai tingkah
laku individu dalam masyarakat beradab merupakan tata cara formal atau tata
krama lahiriah untuk mengatur relasi antar pribadi, sesuai dengan status sosial
masing-masing individu.
Etiket pemimpin itu
sangat dipengaruhi oleh tinggi rendahnya pendidikan dan sivilisasi pribadi
pemimpin. Juga dipengaruhi oleh tinggi rendahnya tingkat kebudayaan sebagai
konteks-sosial yang mewadahi pimpinan. Khususnya mutlak pemimpin itu perlu
mengenal dan menerapkan etiket terhadap anggota kelompoknya guna menjamin
relasi saling hormat-menghormati dan saling menghargai. Kemudian, etiket juga
didukung oleh bermacam-macam nilai, antara lain ialah :
- Nilai-nilai
kesejahteraan dan kebaikan
- nilai kepentingan umum
- nilai kejujuran,
kebaikan dan keterbukaan
- nilai diskresi
(discretion = sederhana, penuh pikir, mampu membedakan apa yang patut dikatakan
dan apa yang harus dirahasiakan)
- Nilai kesopanan, bisa
menghargai orang lain dan diri sendiri
Maka dari
ungguh-ungguh atau etiket yang ditampakkan seseorang lewat perbuatan dan
caranya dia menghormati sesama manusia, khususnya menghormati orang-orang yang
lebih tua, para wanita dan anak-anak, akan dapat dinilai tinggi-rendahnya
akhlak seseorang di tengah kehidupan bersama.
Untuk mempertahankan
hidupnya, kebutuhan-kebutuhan tertentu dari manusia harus dipenuhi. Kebutuhan
hidup secara umum dapat dibagi dalam tiga kategori, yaitu :
a. Kebutuhan tingkat
vital biologis, antara lain berupa sandang, pangan, papan atau tempat tinggal,
perlindungan / rasa aman, air, udara, seks, dan lain-lain
b. Kebutuhan tingkat
sosio-budaya (human-kultural) antara lain berupa empati, simpati, cinta-kasih,
pengakuan-diri, penghargaan, status sosial, prestise, pendidikan, ilmu
pengetahuan, kebutuhan berkumpul dan seterusnya;
c. Kebutuhan tingkat
religius (metafisik, absolut), yaitu kebutuhan merasa terjamin hidupnya, aman
sentosa, bahagia di dunia dan akhirat, dan kebutuhan untuk bersatu/ manunggal
dengan Tuhan Yang Maha Esa.
Kebutuhan-kebutuhan
yang insani sifatnya itu memuaskan dorongan-dorongan (drives, wants)
Dorongan ialah desakan
yang dialami untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan hidup, dan merupakan
kecenderungan untuk mempertahankan hidup.
Dorongan sudah ada
sejak lahirnya manusia namun sering tidak di sadari, dan terlepas dari
kontrolnya rasio manusia. Dorongan erat kaitannya dengan perasaan-perasaan yang
paling dalam. Kuantitas dan kualitas dorongan berbeda-beda pada setiap
individu. Pendidikan dan kebiasaan-kebiasaan yang baik ikut mempengaruhi
dorongan-dorongan tersebut.
Ada dorongan
individual umpamanya : dorongan makan, dorongan aktif, dorongan berkelahi atau
berjuang, dorongan merusak, dorongan berkuasa, dan lain-lain. Di samping itu,
ada dorongan sosial, misalnya : dorongan seks/ kelamin, dorongan sosialitas
atau hidup berkawan, dorongan meniru, dorongan berkumpul dan lain-lain.
Kebutuhan dan
dorongan-dorongan yang tidak atau belum terpenuhi menyebabkan timbulnya
ketegangan-ketegangan cenderung menaik, bila kebutuhan dan dorongan tadi
semakin lama terhambat, dan tidak terpenuhi sehingga, menjadi semakin kumulatif
terkumpul. Sebaliknya ketegangan cenderung menaik, bila kebutuhan dan dorongan
tadi semakin lama terhambat, dan tidak terpenuhi ketegangan cenderung menurun
dan berkurang, bila kebutuhan-kebutuhan terpenuhi atau terpuaskan.
Kebutuhan dan
dorongan-dorongan tadi merangsang orang untuk berbuat atau bertingkah laku.
Lalu timbullah dinamika, gerak-gerak usaha, perbuatan, tingkah laku atau
praksis (praktik, penerapan ketrampilan). Pemuasan kebutuhan dan praksis itu
memberikan rasa lega dan puas.
Mengenai kebutuhan
manusia tersebut, Abraham Maslow menyusun hierarkinya, yang mendorong manusia
untuk melakukan perbuatan-perbuatan tertentu, dan membuat dirinya menjadi aktif
dinamis, sebagai berikut :
1. Kebutuhan fisiologis (physiological
needs), seperti sandang pangan, papan, udara, air, dan lain-lain.
2. Kebutuhan rasa aman (the
savety needs), perlindungan fisik, mendapatkan pekerjaan, jaminan hari tua,
dan lain-lain.
3. Kebutuhan sosial, (the
social needs) kebutuhan bergaul, diakui masyarakat, berkawan, berkeluarga
dan lain-lain.
4. Kebutuhan harga diri (The
esteem needs) untuk memuaskan egonya, seperti memiliki mobil bagus,
berpakaian indah-indah, punya rumah bagus, memiliki gelar, dan seterusnya.
5. Kebutuhan
aktualisasi-diri (the self-actualization needs) untuk memuaskan diri
dengan mengembangkan segenap potensi bakat, dan kemampuan, bekerja, berkreasi,
rekreasi dan lain-lain.
Jadi ada kebutuhan
memberi dan menerima; dan kehidupan bersama ini tidak melulu berdasarkan “hukum
rimba” belaka (barang siapa kuat, dialah yang menang). Maka setiap masyarakat
itu bisa bertahan hanya atas dasar kooperatif antara sesama warga kelompok
manusia itu. Tidak mungkin keberadaannya dipertahankan hanya dengan jalan
kompetisi dan persaingan belaka. Maka untuk kerja sama atau kegiatan-kegiatan
kooperatif itu mutlak diperlukan pemimpin dan kepemimpinan.
Memang kompetisi dan
persaingan sampai pada batas-batas tertentu bisa merangsang pertumbuhan dan
perkembangan sosial. Akan tetapi jika dilakukan tanpa kendali serta tanpa
limitasi/ batas, dan dilakukan sesuai dengan adagium (semboyan)laissez faire
lasser passer (biarkan semua berbuat dan berlaku semau sendiri)
peristiwa-peristiwa tersebut pasti akan mengakibatkan anarki dan destruksi atau
kehancuran total.
Maka untuk menciptakan
iklim kooperatif dengan semangat “bersedia menerima dan rela memberi”, setiap
individu harus mengetahui tempat masing-masing, status, tugas, dan kewajiban
yang harus dikerjakan dan hak-haknya; di dalam realisasinya dengan orang lain
dan masyarakat sekitar selaku totalitas.
Sehubungan dengan
itulah maka setiap warga masyarakat harus mampu dan mau berkomunikasi dengan
sesama warga, harus saling tolong menolong dan rela berkorban.
Pemimpin yang baik itu
wajib memehami kebutuhan-kebutuhan manusiawi tadi baik kebutuhan pribadi
sendiri maupun kebutuhan orang lain, anak buah yang dipimpin dan atasan, serta
kolega-kolega sederajat, sehingga dia bisa bersikap bijaksana. dengan demikian
dia akan mampu memuaskan semua pihak dan berhasilah kepemimpinannya.
Erat kaitannya dengan
kebutuhan ialah : motivasi. Motif atau motivasi (latin,motivus) ialah :
1. gambaran penyebab yang
akan menimbulkan tingkah laku, menuju pada satu sasaran tertentu;
2. landasan dasar,
pikiran dasar, dorongan bagi seseorang untuk berbuat;
3. ide pokok yang
sementara berpengaruh besar terhadap tingkah laku manusia, biasanya merupakan
satu peristiwa masa lampau, ingatan, gambaran fantasi, dan perasaan-perasaan
tertentu.
Berelson Steiner
mendefinisikan motives sebagai “A motive is an inner state
that energizes activities or moves (hence motivation) and that directs or
channels behavior towords a goal” (satu motif adalah satu keadaan
batiniah yang memberikan energi kepada aktivitas-aktivitas atau
menggerakkannya-karena itu menjadi motivasi, mengarahkan atau menyalurkan
tingkah laku pada satu tujuan.
Meumann memberdakan
antara, perjuangan motif, dan penentuan motif.Perjuangan motif merupakan
usaha mempertimbangkan dengan hati nurani dan akan kemungkinan-kemungkinan
untuk melaksanakan satu pilihan di antara beberapa alternatif/ kemungkinan
motif-motif tadi. Penentuan motif pada proses penentuan motif
ada penentuan pelaksanaan pilihan, yaitu memilih motif yang paling
menguntungkan dan paling kuat, untuk dilaksanakan dengan segera.
Maka motivasi kerja
dan motivasi untuk menjadi pemimpin itu bermacam-macam. Ada orang yang didorong
oleh motivasi-motivasi yang rendah dan egoistis, misalnya meraih prestise,
situasi sosial untuk menonjolkan kelebihan dan keakuannya untuk pamer atau
bersifat ekshibisionistis untuk mendapatkan kekayaan dengan
cara apa pun juga, untuk memuaskan kesombonmgan diri (narsistis), dan
lain-lain.
Sebaliknya, ada orang yang muncul menjadi pemimpin karena ia di dorong oleh
motivasi-motivasi luhur atau nobel, misalnya oleh rasa-rasa patriotik,
pengabdian, pengorbanan, kebaikan kecintaan pada rakyat, tidak mementingkan
diri sendiri, tetapi demi kepentingan dan kesejahteraan umum, dan lain-lain.
motif-motif yang jelas, tegas dan kuat, akan mendorong kuat kemauan orang, dan
memberanikan dirinya untuk berbuat sesuatu. Dengan kata lain, barang siapa
memiliki kemauan yang kuat, harus memiliki
motivasi-motivasi yang
jelas-tegas, sehingga mendorong dengan kuat berlangsungnya kemauan. Karena
itulah pendidikan kemauan sebagian besar berupa pemupukan motivasi-motivasi
yang baik, jelas dan kuat.
Dengan demikian
pemimpin harus mampu meberikan motivasi yang baik kepada anak buanya. Berilah
kepada anggota-anggota kelompok atau bawahan satu motivasi atau satu kompleks
motif-motif tertentu, maka pasti mereka bersedia melakukan perbuatan-perbuatan
besar, atau perbuatan kepahlawanan lainnya. Karena itulah maka perlu adanya
pemupukan motif-motif atau motievencultuuur (istilah
Lindworsky) guna membangkitkan semangat dan kegiatan-kegiatan kelompok.
Adapun motivasi yang
diberikan oleh pemimpin itu pada umumnya bermaksud untuk :
1. Meningkatkan asosiasi
dan integrasi kelompok serta menjamin keterpaduan
2. Menjamin efektivitas
dan efisiensi kerja semua anggota kelompok
3. Meningkatkan
partisipasi aktif dan tanggung jawab sosial semua anggota
4. Meningkatkan
produktivitas semua sektor dan anggota kelompok
5. Menjamin
terlaksanannya realisasi diri dan pengembangan diri pada setiap anggota
kelompok. Dan memberikan kesempatan untuk melakukan ekspresi bebas.
I. KESIMPULAN
Manusia modern
sekarang ini sangat berkepentingan dengan kepemimpinan yang baik, yang memiliki
keterampilan teknis tinggi dan sifat-sifat kepribadian yang unggul, dan jelas
dapat dibedakan dari sifat-sifat yang inferior/buruk. Oleh karena itu,
keberhasilan pemimpin juga harus diukur dari apakah kepemimpinannya memberikan
dampak kesejahteraan jasmani-rohani pula kepada anak buahnya, di samping semua
prestasi yang telah dicapainya ?
Asas-asas kepemimpinan
yang baik itu seharusnya berlandaskan : (1) kemanusiaan; yaitu berupa pemberian
tuntunan untuk mengembangkan semua potensi individu; (2) Efisiensi teknis;
efisiensi sosial, dan asas manajemen modern; dan (3) Kesejahteraan serta
kebahagiaan insani yang lebih merata. Karena itu maka profesi kepemimpinan
harus dilandasi motivasi dan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur, yang bisa
menjiwai setiap perbuatan pemimpin.
PENUTUP
Kepemimpinan itu merupakan
fungsi kolektif, fungsi kolektif dalam hal ini berarti penampilan yang
integratif dari daya-upaya kelompok itu akan selalu dikaitkan dengan masalah
kelompok dan tujuan kelompok.
Maka inti hakiki dari
otoritas kepemimpinan dengan kekuasaan dan kewibawaannya itu bukan terletak
pada kemampuan individual pemimpin tadi, akan tetapi terutama terletak pada
kemampuan individual pemimpin tadi, akan tetapi terutama terletak pada situasi
totalnya.
Situasi tital ini
pertama kali bisa dijabarkan sebagai :
Pertama, kontribusi
dari setiap anggota kelompok, sehingga bisa dimunculkan kepemimpinan kolektif.
Kedua, tuntutan dari
situasinya, yang memunculkan bentuk-bentuk keharusan dan norma-norma yang wajib
dijalani oleh setiap anggota kelompok. Dan bukan individu pemimpin yang
menciptakan keharusan-keharusan dan norma-norma.
Sehubungan dengan
sulitnya upaya memilih tokoh pemimpin yang baik bagi semua sektor kehidupan,
perlu adanya training kepemimpinan bagi para kandidat/calon dan
pemimpin-pemimpin yunior. Training semacam ini tidak cukup hanya dengan
ceramah-ceramah dan buku-buku bacaan saja. Sebab usaha sedemikian ini sama saja
nilainya dengan proses belajar berenang di daratan. Maka yang sangat diutamakan
dalam training kepemimpinan – khususnya bagi orang-orang muda banyak melakukan
praktik kepemimpinan di bawah supervisi yang dekat.
Sebab, mungkin saja
seseorang (calon) pemimpin itu secara tidak sadar melakukan
kesalahan-kesalahan, berkata-kata sarkatis menyakiti hati orang lain,
menggunakan argumentasi irrasional, sikapnya tidak sabar, acuh tak acuh
terhadap bawahan, tidak dengan sengaja menakut-nakuti pengikutnya, dan
lain-lain. Maka melalui banyak praktik memimpin, di bawah supervisi yang ketat,
dan cukup mendapatkan banyak kritik-kritik, nasihat dan bimbingan, maka
pemimpin-pemimpin menemukan kelemahan-kelemahan sendiri, lalu dia menyadari
pentingnya upaya perbaikan diri, pembentukan diri dan pembajaan diri, untuk
menjadi pemimpin yang baik. Dia bisa menirukan tingkah laku pemimpin yang
sukses, dan belajar dari tingkat paling bawah melalui banyak pengalaman.
Tambahan lagi, dia
akan lebih terbuka terhadap kritik-kritik dan advis-advis supervisornya.
Sehingga dia menjadi lebih peka dan lebih toleran terhadap kritik-saran-sugesti
dari semua pihak, terutama dari anggota-anggota kelompoknya. Maka
sensitivitas/kepekaan tinggi terhadap aksi dan reaksi dari setiap anggota
kelompok yang dibawahi, baik yang formal maupun informal statusnya, merupakan
salah satu sifat utama / keutamaan bagi kepemimpinan berkualitas tinggi.
Maka pemimpin yang
baik dengan kepemimpinannya yang efektif, akan banyak membantu kelancaran kerja
sama yang kooperatif untuk mencapai sasaran-sasaran yang ditetapkan, khususnya
sasaran pembangunan nasional.
etika pemimpin yang
harus dijalankan ialah memimpin, mengatur, mengelola, dan ” memanage” dengan
rasa tanggung jawab, lalu mengarahkan kelompok atau lembaga yang dipimpinnya
menuju kepada tujuan ekonomis dan tujuan sosial tertentu.
Selanjutnya, etika
profesi pemimpin menyakut pembahasan mengenai :
1. Kewajiban-kewajiban
pemimpin
2. Tingkah laku pemimpin
yang baik dan dapat dibedakan dari tingkah laku yang buruk, dan menjadi
teladan, serta
3. Moral pemimpin
Maka etika profesi
pemimpin akan memberikan landasan kepada setiap pemimpin untuk bersikap kritis
dan rasional, bersikap otonom, dan mengenakan/dikenakan sanksi, larangan dan
hukuman jika ada yang berbuat keliru dan menyimpang dari norma dan konvensi
yang ada.
Sehubungan dengan
etika profesi pemimpin ini, setiap kekuasaan dan wewenang pemimpin harus
dilandasi asas keadilan dan kebaikan diarahkan pada penciptaan syarat-syarat
untuk mencapai kebahagiaan-kesejahteraan-keadilan bagi masyarakat luas.
Penting bagi kita
sekarang ini ialah tidak menempatkan individu-individu yang super-egoistis,
yang mengutamakan interest sendiri, gila kuasa, atau ovberambisius, tidak mampu
mengemban tanggung jawab, serta sakit secara sosial sebagai tokoh pemimpin.
Sebab, orang-orang sedemikian itu adalah pribadi yang sakit, dan dapat
menularkan penyakitnya kepada bawaan dan masyarakat luas dalam bentuk-bentuk
penindasan, penghisapan, penderitaan dan kesengsaraan lahir-batin.
Oleh karena itu,
proses seleksi calon-calon pemimpin dalam usaha mendapatkan bibit-bibit unggul,
merupakan usaha yang teramat sulit. Hal ini terutama mengingat :
1. Iklim demokrasi memang
memungkinkan siapapun juga yang mampu berjuang untuk merebut kursi
kepemimpinan, sekalipun mereka itu tidak selalu menggunakan jalan-jalan yang
luas dan wajar.
2. Memang ada
pemimpin-pemimpin abnormal, yang bukan merupakan “putra terbaik” dari negara
yang bermunculan di tengah arena. Maka kemunculan banyak pemimpin yang abnormal
dan sakit itu pasti merefleksikan adanya masyarakat yang tengah sakit pula.
Selanjutnya masyarakat
modern sekarang ini sifatnya sangat kompleks dan pluriform, penuh disharmoni,
pertentangan atau konflik. Oleh karena itu, manajemen masyarakat modern adalah
indek dengan manajemen konflik.
Pendekatan pemimpin
tradisional terhadap konflik ialah dengan jalan mengeliminir konflik, jadi
antikonflik.
Pendekatan pemimpin
yang behavior atau netral ialah : merasionalisasi konflik; konflik dijadikan
“netral”, agar mempunyai fungsi sosial di tengah masyarakat.
Pendekatan pemimpin
modern atau interaksionis ialah dengan jalan mengembangkan manajemen konflik.
Dan mengakui adanya relasi di antara konflik yang konstruktif (dapat
di-manage) dengan suksesnya organisasi. Lagi pula, konflik dalam
batas-batas wajar mencerminkan adanya :demokrasi, kebinekaan, perbedaan,
keragaman, dinamis, perkembangan, pertumbuhan, aktualisasi-diri dan
transendensi-diri. Dengan demikian konflik bisa menjadi benih vital bagi
pertumbuhan serta suksesnya lembaga atau organisasi.
Kepemimpinan dalam era
pembangunan nasional sekarang harus bersumber pada falsafah negara, yaitu
Pancasila. Maka diharapkan agar kepemimpinan Pancasila itu mampu menggali
intisari dari nilai-nilai tradisi kuno yang luhur (peninggalan para leluhur dan
para nenek moyang kita), untuk dipadukan dengan nilai-nilai positif dan
modernisme. Dengan demikian kita tidak akan kehilangan identitas sendiri
sebagai suatu bangsa yang besar, sekalighus bisa ikut dalam derap kemajuan dari
modernitas di zaman modern sekarang.
Di bawah kepemimpinan
Pancasila yang benar-benar memancarkan sifat-sifat unggul dan menjadi
panutan-keteladanan, semoga bangsa indonesia dapat menyongsong saat-saat
gemilang di masa mendatang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar