BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Siapa tak kenal Candi Borobudur? Candi Budha
ini memiliki 1460 relief dan 504 stupa Budha di kompleksnya. Jutaan orang
mendamba untuk mengunjungi bangunan yang termasuk dalam World Wonder Heritages
ini. Tak mengherankan, sebab secara arsitektural maupun fungsinya sebagai
tempat ibadah, Borobudur memang memikat hati. Borobudur dibangun oleh Raja
Samaratungga, salah satu raja kerajaan Mataram Kuno, keturunan Wangsa
Syailendra.
Berdasarkan prasasti Kayumwungan, seorang
Indonesia bernama Hudaya Kandahjaya mengungkapkan bahwa Borobudur adalah sebuah
tempat ibadah yang selesai dibangun 26 Mei 824, hampir seratus tahun sejak masa
awal dibangun. Nama Borobudur sendiri menurut beberapa orang berarti sebuah
gunung yang berteras-teras (budhara), sementara beberapa yang lain mengatakan
Borobudur berarti biara yang terletak di tempat tinggi.Bangunan Borobudur
berbentuk punden berundak terdiri dari 10 tingkat. Tingginya 42 meter sebelum
direnovasi dan 34,5 meter setelah direnovasi karena tingkat paling bawah
digunakan sebagai penahan.
B. Rumusan Masalah
Agar pembahasan sesuai dengan yang di
inginkan penulis dapat tercapai dengan tepat dan benar maka penulis membatasi
masalah sebagai berikut.
1.
Pengertian Candi Borobudur
?
2.
Bagaimana Sejarah Candi
Borobudur ?
3.
Apa Usaha penemuan dan
penyelamatan Candi Borobudur ?
4.
Bagaimana Tahapan Borobudur
dari masa ke masa ?
5.
Bagaimana peranan Borobudur
?
6.
Bagaimana Pengembangan
Candi Borobudur ?
C. Tujuan Penelitian
Dengan di buatnya karya tulis ini, penulis
mempunyai tujuan pokok yang ingin di capai adalah sebagai berikut.
1.
Untuk mengetahui dan
menghayati sejarah berdirinya Candi Borobudur
2.
Sebagai siswa harus tahu
latar belakang di dirikannya Candi Borobudur
3.
Untuk mengetahui makna dan
arti yang terkandung dalam komplek bangunan Candi Borobudur
4.
Mengetahui peranan Candi
Borobudur sebagai objek Wisata
D. Metode Penelitian
Sumber-sumber bahasan yang di gunakan untuk
pembuatan karya tulis ini adalah sebagai berikut.
1.
Metode deskriptif: yaitu
Metode yang menggambarkan masalah yang ada pada masa sekarang
2.
Metode biografi: Yaitu metode
dengan cara meneliti majalah dan media lainya
3.
Metode observasi: yaitu
penulis terjun langsung ke lapangan untuk penelitian agar mudah mendapat data-data
4.
Dan informasi dari beberapa
tokoh masyarakat di sekitar Candi Borobudur
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Candi Borobudur
Candi Borobudur merupakan candi terbesar
kedua setelah Candi Ankor Wat di Kamboja. Borobudur mirip bangunan piramida
Cheops di Gizeh Mesir. Luas bangunan Candi Borobudur 15.129 m2 yang tersusun
dari 55.000 m3 batu, dari 2 juta potongan batu-batuan. Ukuran batu rata-rata 25
cm X 10 cm X 15 cm. Panjang potongan batu secara keseluruhan 500 km dengan
berat keseluruhan batu 1,3 juta ton. Dinding-dinding Candi Borobudur
dikelilingi oleh gambar-gambar atau relief yang merupakan satu rangkaian cerita
yang terususun dalam 1.460 panel. Panjang panel masing-masing 2 meter. Jadi
kalau rangkaian relief itu dibentangkan maka kurang lebih panjang relief
seluruhnya 3 km. Jumlah tingkat ada sepuluh, tingkat 1-6 berbentuk bujur
sangkar, sedangkan tingkat 7-10 berbentuk bundar. Arca yang terdapat di seluruh
bangunan candi berjumlah 504 buah. Sedangkan, tinggi candi dari permukaan tanah
sampai ujung stupa induk dulunya 42 meter, namun sekarang tinggal 34,5 meter
setelah tersambar petir.
Menurut hasil penyelidikan seorang
antropolog-etnolog Austria, Robert von Heine Geldern, nenek moyang bangsa
Indonesia sudah mengenal tata budaya pada zaman Neolithic dan Megalithic yang
berasal dari Vietnam Selatan dan Kamboja. Pada zaman Megalithic itu nenek
moyang bangsa Indonesia membuat makam leluhurnya sekaligus tempat pemujaan
berupa bangunan piramida bersusun, semakin ke atas semakin kecil. Salah satunya
yang ditemukan di Lebak Sibedug Leuwiliang Bogor Jawa Barat. Bangunan serupa
juga terdapat di Candi Sukuh di dekat Solo, juga Candi Borobudur. Kalau kita
lihat dari kejauhan, Borobudur akan tampak seperti susunan bangunan berundak
atau semacam piramida dan sebuah stupa.
Berbeda dengan piramida raksasa di Mesir dan
Piramida Teotihuacan di Meksiko Candi Borobudur merupakan versi lain bangunan
piramida. Piramida Borobudur berupa kepunden berundak yang tidak akan ditemukan
di daerah dan negara manapun, termasuk di India. Dan itulah salah satu
kelebihan Candi Borobudur yang merupakan kekhasan arsitektur Budhis di
Indonesia.
Melihat kemegahan bangunan Candi Borobudur
saat ini dan candi-candi lainnya di Indonesia telah memberikan pengetahuan yang
besar tentang peradaban bangsa Indonesia. Berbagai ilmu pengetahuan terlibat
dalam usaha rekonstruksi Candi Borobudur yang dilakukan oleh Teodhorus van Erp.
Kita patut menghargai usaha-usahanya mengingat berbagai kendala dan kesulitan
yang dihadapi dalam membangun kembali candi ini.
Sampai saat ini ada beberapa hal yang masih
menjadi bahan misteri seputar berdirinya Candi Borobudur, misalnya dalam hal
susunan batu, cara mengangkut batu dari daerah asal sampai ke tempat tujuan,
apakah batu-batu itu sudah dalam ukuran yang dikehendaki atau masih berupa
bentuk asli batu gunung, berapa lama proses pemotongan batu-batu itu sampai
pada ukuran yang dikehendaki, bagaimana cara menaikan batu-batu itu dari dasar
halaman candi sampai ke puncak, alat derek apakah yang dipergunakan? Mengingat
pada masa itu belum ada gambar biru (blue print), lalu dengan sarana apakah
mereka itu kalau hendak merundingkan langkah-langkah pengerjaan yang harus
dilakukan, dalam hal gambar relief, apakah batu-batu itu sesudah bergambar lalu
dipasang, atau batu dalam keadaan polos baru dipahat untuk digambar. Dan mulai
dari bagian mana gambar itu dipahat, dari atas ke bawah atau dari bawah ke
atas? Dan masih banyak lagi misteri yang belum terungkap secara ilmu
pengetahuan, terutama tentang ditemukannya ruang pada stupa induk candi.
B. Sejarah Candi Borobudur
Candi Borobudur dibangun sekitar tahun 800
sebelum masehi atau abad ke 9. Borobudur dibangun oleh pengikut Buddha Mahayana
pada masa pemerintahan Dinasti Dinasti. Candi ini dibangun pada masa kejayaan
dinasti dinasti. Pendiri Candi Borobudur, Raja Samaratungga dari atau dinasti
dinasti dinasti. Kemungkinan candi ini dibangun sekitar 824 AD dan selesai
sekitar 900 Masehi pada masa pemerintahan Ratu Pramudawardhani putri
Samaratungga. Sementara arsitek yang membantu membangun candi ini untuk cerita
turun-temurun bernama Gunadharma.
Borobudur kata-kata sendiri berdasarkan bukti
tertulis pertama yang ditulis oleh Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur
Jenderal Britania Raya di Jawa, yang memberikan nama candi ini. Tidak ada bukti
tertulis bahwa orang tua yang memberikan nama ini Candi Borobudur. Hanya satu
dokumen tertua yang menunjukkan adanya candi ini Nagarakretagama buku yang
ditulis oleh MPU tahun 1365 Prapanca Buku tersebut ditulis bahwa candi ini
digunakan sebagai tempat untuk meditasi Buddhis.
Arti dari "biara di pegunungan"
nama Borobudur yang berasal dari kata "bara" (candi atau biara) dan
"beduhur" (bukit atau tanah tinggi) di sansekerta. Oleh karena itu,
sesuai dengan arti nama Borobudur, maka tempat ini sejak dahulu digunakan
sebagai tempat ibadah Buddha.
Candi ini selama berabad-abad tidak lagi
digunakan. Jadi, karena letusan gunung berapi, menutupi sebagian besar bangunan
Borobudur tanah vulkanik. Selain itu, bangunan juga ditutupi dengan berbagai
pepohonan dan semak belukar selama berabad-abad. Kemudian bangunan candi ini
mulai terlupakan dalam waktu Islam datang ke Indonesia sekitar abad ke-15.
Pada tahun 1814, ketika Inggris menduduki
Indonesia, Sir Thomas Stamford Raffles mendengar tentang penemuan benda
arkeologi besar di desa Bumisegoro Kabupaten Magelang. Karena minat yang besar
dalam sejarah Jawa, dan kemudian segera memerintahkan Raffles HC Cornelius,
seorang insinyur Belanda, untuk menyelidiki lokasi penemuan itu berupa bukit
yang dipenuhi semak belukar.
Cornelius dibantu oleh sekitar 200 orang
jatuh pepohonan dan menyingkirkan semak yang menutupi bangunan raksasa. Karena
bangunan sudah rapuh dan bisa runtuh, kemudian melaporkan kepada Kornelius
penemuan Raffles berisi beberapa gambar. Sejak penemuannya, adalah Raffles
bernama pria yang memulai pemugaran Candi Borobudur dan mendapat perhatian
dunia. Pada tahun 1835, seluruh kawasan candi telah digali. Candi ini diadakan
kembali di era kolonial Belanda.
Setelah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1956
Pemerintah Indonesia meminta bantuan dari UNESCO untuk memeriksa kerusakan
Borobudur. Jadi, pada tahun 1963. Dari keputusan Pemerintah Indonesia resmi
untuk melaksanakan pemugaran Candi Borobudur oleh UNESCO ini namun dipulihkan
hanya benar-benar mulai terjadi pada tanggal 10 Agustus 1973. Proses renovasi
baru selesai pada tahun 1984. Sejak tahun 1991, ditunjuk Borobudur sebagai
Dunia atau World Heritage Site oleh UNESCO.
C. Usaha Penemuan dan
Penyelamatan Candi
Borobudur yang menjadi keajaiban dunia
menjulang tinggidi antara dataran rendah di sekelilingnya Tidak akan pernah
mamasuk akal mereka melihat karya seni terbesar yang merupakan hasil karya
sangat mengagumkan dan tidak lebih masuk akal lagi bila di katakan Candi
Borobudur pernah mengalami kerusakan
Memang demikian keadaannya Candi Borobudur
terlupakan selama tenggang waktu yang cukup lama bahkan sampai berabad-abad
bangunan yang begitu megahnya di hadapkan pada proses kehancuran. Kira-kira
hanya 150 tahun Candi Borobudur di gunakan sebagai pusat Ziarah, waktu yang
singkat di bandingkan dengan usianya ketika pekerja menghiasi / membangun bukit
alam Candi Borobudur dengan batu-batu di bawah pemerintahan yang sangat
terkenal yaitu SAMARATUNGGA, sekitar tahun 800-an dengan berakhirnya kerajaan
Mataram tahu 930 M pusat kehidupan dan kebudayaan jawa bergeser ke timur
Demikian karena terbengkalai tak terurus maka
lama-lama di sana-sini tumbuh macam-macam tumbuhan liar yang lama kelamaan
menjadi rimbun dan menutupi bangunannya. Pada kira-kira abad ke-10 Candi
Borobudur terbengkalai dan terlupakan.
Baru pada tahun 1814 M berkat usaha Sir
Thomas Stamford Rafles Candi Borobudur muncul dari kegelapan masa silam. Rafles
adalah Letnan Gubernur Jendral Inggris, ketika Indonesia di kuasai / di jajah
Inggris pada tahun 1811 M-1816 M.
Pada tahun 1835 M seluruh candi di bebaskan
dari apa yang menjadi penghalang pemandangan oleh Presiden kedua yang bernama
Hartman, karen begitu tertariknya terhadap Candi Borobudur sehingga ia mengusahakan
pembersihan lebih lanjut, puing-puing yang masih menutupi candi di sigkirkan dan
tanah yang menutupi lorong-lorong dari bangunan candi di singkirkan semua
shingga candi lebih baik di bandingkan sebelumnya.
Semenjak Candi Borobudur di temukan dimulailah
usaha perbaikan dan pemugaran kembali bangunan Candi Borobudur mula-mula hanya
dilakukan secara kecil-kecilan serta pembuatan gambar-gambar dan photo-photo
reliefnya. Pemugaran Candi Borobudur yang pertam kali di adakan pada tahun 1907
M-1911 M di bawah pimpinan Th Van erf dengan maksudnya adalah untuk menghindari
kerusakan-kerusakan yang lebih besar lagi dari bangunan Candi Borobudur
walaupun banyak bagian tembok atau dinding – dinding terutam tingkat tiga dari
bawah sebelah Barat Laut, Utara dan Timur Laut yang masih tampak miring dan
sangat mengkhawatirkan bagi para pengunjungmaupun bangunannya sendiri namun
pekerjaan Van Erp tersebut untuk sementara Candi Borobudur dapat dsi selamatkan
dari kerusakan yang lebih besar.
Mengenai gapura-gapura hanya beberapa saja
yang telah di kerjakan masa itu telah mengembalikan kejayaan masa silam, namun
juga perlu di sadari bahwa tahun-tahun yang di lalui borobudur selama
tersembunyi di semak-semak secara tidak langsung telah menutupi adan melindungi
dari cuaca buruk yang mungkin dapat merusak bangunan Candi Borobudur, Van Erp
berpendapat miring dan meleseknya dinding-dinding dari bangunan itu tidak
sangat membahayakan bangunan itu, Pendapat itu sampai 50 tahun kemudian memang
tidak salah akan tetapi sejak tahun 1960 M pendapat Tn Vanerf itu mulai di
ragukan dan di khawatirkan akan ada kerusakan yang lebih parah.
D. Tahapan Borobudur dari Masa
ke Masa
Setelah pemugaran besar-besaran pada 1973
yang didukung oleh UNESCO. Borobudur kembali menjadi pusat keagamaan dan ziarah
agama Buddha. Sekali setahun pada saat bulan purnama sekitar bulan Mei atau
Juni, umat Buddha di Indonesia memperingati hari suci Waisak, hari yang
memperingati kelahiran, wafat, dan terutama peristiwa pencerahan Siddhartha
Gautama yang mencapai tingkat kebijaksanaan tertinggi menjadi Buddha
Shakyamuni. Waisak adalah hari libur nasional di Indonesia dan upacara
peringatan dippusatkan di tiga candi Buddha utama dengan ritual berjalan dari
Candi Mendut menuju Candi Pawon dan prosesi berakhir di Candi Borobudur.
Pada 21 Januari 1985, sembilan stupa rusak
parah akibat sembilan bom. Pada 1991 seorang penceramah muslim beraliran
ekstrem yang tunanetra, Husein Ali Al Habsyie, dihukum penjara seumur hidup
karena berperan sebagai otak serangkaian serangan bom pada pertengahan dekade
1980-an, termasuk serangan atas Candi Borobudur. Dua anggota kelompok ekstrem
sayap kanan djatuhi hukuman 20 tahun penjara pada tahun 1986 dan seorang
lainnya menerima hukuman 13 tahun penjara. Sendratari "Mahakarya Borobudur"
digelar di Borobudur.
Monumen ini adalah obyek wisata tunggal yang
paling banyak dikunjungi di Indonesia. Pada 1974 sebanyak 260.000 wisatawan
yang 36.000 diantaranya adalah wisatawan mancanegara telah mengunjungi monumen
ini. Angka ini meningkat hingga mencapai 2,5 juta pengunjung setiap tahunnya
(80% adalah wisatawan domestik) pada pertengahan 1990-an, sebelum Krisis
finansial Asia 1997. Akan tetapi pembangunan pariwisata dikritik tidak
melibatkan masyarakat setempat sehingga beberapa konflik lokal kerap terjadi.
Pada 2003, penduduk dan wirausaha skala kecil di sekitar Borobudur menggelar
pertemuan dan protes dengan pembacaan puisi, menolak rencana pemerintah
provinsi yang berencana membangun kompleks mal berlantai tiga yang disebut
'Java World'. Upaya masyarakat setempat untuk mendapatkan penghidupan dari
sektor pariwisata Borobudur telah meningkatkan jumlah usaha kecil di sekitar
Borobudur. Akan tetapi usaha mereka untuk mencari nafkah seringkali malah
mengganggu kenyamanan pengunjung. Misalnya pedagang cenderamata asongan yang
mengganggu dengan bersikeras menjual dagangannya; meluasnya lapak-lapak pasar
cenderamata sehingga saat hendak keluar kompleks candi, pengunjung malah
digiring berjalan jauh memutar memasuki labirin pasar cenderamata. Jika tidak
tertata maka semua ini membuat kompleks candi Borobudur semakin semrawut.
Pada 27 Mei 2006, gempa berkekuatan 6,2 skala
mengguncang pesisir selatan Jawa Tengah. Bencana alam ini menghancurkan kawasan
dengan korban terbanyak di Yogyakarta, akan tetapi Borobudur tetap utuh.
Pada 28 Agustus 2006 simposium bertajuk Trail
of Civilizations (jejak peradaban) digelar di Borobudur atas prakarsa Gubernur
Jawa Tengah dan Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan, juga hadir perwakilan
UNESCO dan negara-negara mayoritas Buddha di Asia Tenggara, seperti Thailand,
Myanmar, Laos, Vietnam, dan Kamboja. Puncak acara ini adalah pagelaran
sendratari kolosal "Mahakarya Borobudur" di depan Candi Borobudur.
Tarian ini diciptakan dengan berdasarkan gaya tari tradisional Jawa, musik
gamelan, dan busananya, menceritakan tentang sejarah pembangunan Borobudur.
Setelah simposium ini, sendratari Mahakarya Borobudur kembali dipergelarkan
beberapa kali, khususnya menjelang peringatan Waisak yang biasanya turut
dihadiri Presiden Republik Indonesia. Batu peringatan pemugaran candi Borobudur
dengan bantuan UNESCO.
UNESCO mengidentifikasi tiga permasalahan
penting dalam upaya pelestarian Borobudur: vandalisme atau pengrusakan oleh
pengunjung; erosi tanah di bagian tenggara situs; analisis dan pengembalian bagian-bagian
yang hilang. Tanah yang gembur, beberapa kali gempa bumi, dan hujan lebat dapat
menggoyahkan struktur bangunan ini.
Gempa bumi adalah faktor yang paling parah,
karena tidak saja batuan dapat jatuh dan pelengkung ambruk, tanah sendiri
bergerak bergelombang yang dapat merusak struktur bangunan. Meningkatnya
popularitas stupa menarik banyak pengunjung yang kebanyakan adalah warga
Indonesia. Meskipun terdapat banyak papan peringatan untuk tidak menyentuh
apapun, pengumandangan peringatan melalui pengeras suara dan adanya penjaga,
vandalisme berupa pengrusakan dan pencorat-coretan relief dan arca sering
terjadi, hal ini jelas merusak situs ini. Pada 2009, tidak ada sistem untuk
membatasi jumlah wisatawan yang boleh berkunjung per hari, atau menerapkan tiap
kunjungan harus didampingi pemandu agar pengunjung selalu dalam pengawasan.
E. Peranan Borobudur dalam
Menunjang Pembangunan
Bentuk bangunan candi Borobudur merupakan
perpaduan antara kebudayaan asli Indonesia dan kebudayaan India. Penyebaran
kebudayaan di candi Borobudur menghasilkan Akulturasi, Asimilasi, atau
Sintesis. Akulturasi adalah bersatunya dua kebudayaan sehingga membentuk
kebudayaan baru tanpa menghilangkan unsur kebudayaan asli. Asimilasi adalah
bercampurnya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru. Sedangkan
Sintesis adalah bercampurnya dua kebudayaan yang berakibat pada terbentuknya
sebuah kebudayaan baru yang sangat berbeda dengan kebudayaan asli.
Masuknya pengaruh kebudayaan Budha dari candi
Borobudur tidak mengakibatkan konflik di masyarakat, melainkan memperkaya
khasanah budaya masyarakat setempat. Dan pengaruh kebudayaan dari candi
Borobudur juga tidak mengakibatkan hilangnya unsur-unsur asli budaya
masyarakat.
Kalau kita lihat dari kejauhan, Borobudur
akan tampak seperti susunan bangunan berundak atau semacam piramida dan sebuah
stupa. Hal tersebut merupakan salah satu kelebihan candi Borobudur yang
merupakan ciri khas arsitektur candi Borobudur. Candi Borobudur mempunyai
bangunan-bangunan yang khas, seperti stupa, relief, patung Budha, dan
lain-lain, yang mengakibatkan terciptanya keanekaragaman bangunan yang ada di
candi Borobudur sehingga memiliki nilai seni yang sangat tinggi dan memberi
simbol bahwa candi Borobudur menampung khasanah seni budaya di Indonesia.
Sehingga candi Borobudur memiliki peranan dalam memajukan khasanah budaya di
Indonesia.
F. Pengembangan Candi
Borobudur
Pengembangan Candi Borobudur di mulai tanggal
10 Agustus 1973 prasati dimulainya pekerjaan pemugaran Candi Borobudur terletak
di sebelah Barat Laut Menghadap ke timur karyawan pemugaran tidak kurang dari
600 orang diantaranya ada tenaga-tenaga muda lulusan SMA dan SIM bangunan yang
memang diberikan pendidikan khususnya mengenai teori dan praktek dalam bidang
Chemika Arkeologi ( CA ) dan Teknologi Arkeologi ( TA )
Teknologi Arkeologi bertugas membongkar dan
memasang batu - batu Candi Borobudur sedangkan Chemika Arkeologi bertugas
membersihkan serta memperbaiki batu-batu yang sudah retak dan pecah, pekerjaan
– pekerjan di atas bersifat arkeologi semua di tangani oleh badan pemugaran
Candi Borobudur, sedangkan pekerjaan yang bersifat teknis seperti penyediaan transportasi
pengadaaan bahan-bahan bangunan di tangani oleh kontraktor ( PT NIDYA KARYA dan
THE CONTRUCTION AND DEVELOPMENT CORPORATION OF THE FILIPINE ).
Bagian-bagian Candi Borobudur yang di pugar
ialah bagian Rupadhatu yaitu tempat tingkat dari bawah yang berbentuk bujur
sangkar sedangkan kaki Candi Borobudur serta teras I, II, III dan stupa induk
ikut di pugar pemugaran selesai pada tanggal 23 Februari 1983 M di bawah
pimpinan DR Soekmono dengan di tandai sebuah batu prasati seberat + 20 Ton.
Prasasti peresmian selesainya pemugaran berada di halaman
barat dengan batu yang sangat besar di buatkan dengan dua bagian satu menghadap
ke utara satu lagi menghadap ke timur penulisan dalam prasasti tersebut di
tangani langsung oleh tenaga yang ahli dan terampil dari Yogyakarta yang
bekerja pada proyek pemugaran Candi Borobudur.
G. Pendapatan Pariwisata Candi
Borobudur
PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan
& Ratu Boko, BUMN yang dipercaya mengelola ketiga candi di Jateng dan DIY,
pesimistis target pendapatan Borobudur dan Prambanan tahun ini tercapai.
Menurut Direktur Pemasaran PT Taman Wisata
Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko, Agus H. Canny seperti yang dikutip
dari bisnis.com mengatakan untuk 2011 pemasukan targetnya Rp140 miliar
dengan laba Rp30 miliar. Diperkirakan target tak terpenuhi, hanya sekitar
60-70% saja. “Sepanjang tahun lalu jumlah pengunjung kedua candi tersebut
mencapai 4 juta orang dengan jumlah terbesar, mencapai 60% ke Borobudur di
Magelang, Jateng dan 40% ke Prambanan di Yogyakarta,” ujarnya.
Dikatakan, dari jumlah pengunjung tersebut
itu pendapatan total PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko
mencapai Rp120 miliar dengan laba sekitar 20 miliar. Meski demikian kontribusi
penghasilan terbesar justru didapat dari wisatawan lokal yang mencapai
60% sementara wisatawan asing hanya 40%. “Rendahnya kunjungan wisatawan asing
disebabkan rendahnya pengetahuan warga dunia atas Borobudur dan Prambanan.
Manajemen malah mendapati biro wisata di sejumlah negara di Asia mengatakan
Borobudur berada di Thailand,” katanya.
Berdasarkan survey yang dilakukan saat
kunjungan manajemen ke sejumlah negara Asia, banyak tour guide belum
tahun tentang Candi Borobudur, bahkan saat berkunjung ke India dan Korea, tidak
ada satupun yang tahu. "Saat di Malaysia hanya sekitar 5% yang tahu,
demikian juga di Jepang. Thailand hanya diketahui 3% saja. Ketidaktahuan tour
guide mengenai Candi Borobudur memang membuat kunjungan wisatawan dari
negara tetangga tersebut sangat minim sekali. Yang menarik candi kebanggan
masyarakat Indonesia justru lebih banyak didatangi masyarakat Eropa,”
ungkapnya.
Ditambahkannya, dari 400 ribu kunjungan turis
justru didominasi warga negara Belanda, Perancis, Jerman, lalu disusul Malaysia
dan Singapura. Untuk itu perlu tanggungjawab semua pihak untuk lebih
mengenalkan Candi Borobudur ke masyarakat asing.
Agus mencatat kunjungan wisatawan ke
Borobudur per hari mencapai 10.000 orang yang akan meningkat hingga 18.000 pada
saat musim libur panjang sekolah dan Lebaran sementara jika sepi kunjungan ke
Borobudur hanya mencapai 3.000-4.000 orang. Tiket masuk Borobudur untuk
wisatawan asing dipatok US$ 14-15, sedangkan wisatawan lokal hanya
Rp25.000.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari semua masalah tentang sejarah brdirinya
Candi Borobudur ini ternyata dapat di ambil kesimpulan sebagai berikut:
Waktu didirikannya Candi Borobudur tidaklah
dapat diketahui dengan pasti namun suatu perkiraan dapat di peroleh dengan
tulisan singkat yang di pahatkan di atas pigura relief kaki asli Candi
Borobudur ( Karwa Wibhangga ) menunjukan huruf sejenis dengan yang di dapatkan
dari prasati di akhir abad ke – 8 sampai awal abad ke – 9 dari bukti – bukti
tersebut dapat di tarik kesimpulan bahwa Candi Borobudur di dirikan sekitar
tahun 800 M.
Borobudur terletak di Kecamatan Borobudur
Kabupaten Magelang yang letaknya sebelah selatan + 15 km sebelah selatan kota
Magelang dataran kedu yang berbukit hampir seluruhnya di kelilingi pegunungan,
pegunungan yang mengelilingi Candi Borobudur di antaranya di sebelah timur
terdapat Gunung Merbabu dan Gunung Merapi Barat, Laut Gunung Sumbing dan Gunung
Sindoro.
Nama Borobudur berasal dari gabungan kata
Boro dan Budur, Boro berasal dari kata Sangsekerta berarti “ Vihara” yang
berarti komplek Candi dan Bihara atau juga asrama (Menurut Purwacaraka Dan
Stuten Herm) sedangkan Budur dalam bahasa Bali “ Bedudur” yang artinya di Atas.
Jadi nama Borobudur berarti asrama atau bahasa (Komplek Candi) yang terletak di
atas bukit.
B. Saran
Dari pembuatan karya tulis ini penulis akan
menyajikan beberapa saran diantaranya sebagai berikut.
1.
Kita sebagai generasi muda
harus menadi generasi penerus bangsa dengan cara giat belajar dan berlatih
supaya menjadi siswa – siswi yang terampil dan bertaqwa
2.
Kita sebagai warga negara
harus menjaga dan melestarikan bdaya bangsa dengan memelihara tempat – tempat bersejarah
sebagai peninggalan nenek moyang kita
3.
Penulis berharap dengan
berkembangnya kebudayaan barat di harapkan pada rekan generasi muda mampu
memilih dan menilia budaya yang masuk dan berusaha mempertahankan kebudayaan
bangsa sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
CANDI BOROBUDUR DAN PENDAPATANNYA SEBAGAI OBJEK WISATA
Mengetahui/
Menyetujui:
Wali Kelas
Uup Upendinardi, S.Pd
NIP.
|
Guru
Pembimbing
Fitria Nurafiffah, S.Pd
NIP.
|
|
Mengetahui
Kepala
Sekolah
Jajat Sudrajat, S.Pd., M.Pd
NIP. 196505131988031012
|
||
KATA PENGANTAR
Puji sukur kami panjatkan kehadirat Allah
SWT, karena atas karunia-Nya kami dapat menyelesaikan tugas ini.
Makalah ini di menyajikan rangkuman materi
tentang “CANDI BOROBUDUR “. Borobudur adalah salah satu dari 7 keajaiban
dunia, yang dimiliki oleh negara kita Indonesia, yang merupakan warisan dari
sejarah bangsa Indonesia.
Kami tidak lupa mengucapkan terima kasih
kepada orang-oarang yang ikut membantu terutama orang tua dalam segi materi dan
pada guru yang telah membimbing kami.
Dan juga kami mohon maaf sebesar-besarnya
karena sebaik-baiknya kami mengerjakan makalah ini pasti ada kesalahan tapi
kami sudah berusaha semaksimal mungkin.
Mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfa’at
bagi orang yang membaca khususnya kami yang mwmbuatnya. Amin.
Jatinunggal,
April 2019
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .....................................................................................
LEMBAR PENGESAHAN
...........................................................................
KATA PENGANTAR ................................................................................
DAFTAR ISI .................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN ..............................................................................
A.
Latar
Belakang ...................................................................................
B.
Rumusan Masalah ..............................................................................
C.
Tujuan Penelitian ...............................................................................
D.
Metode Penelitian ..............................................................................
BAB II PEMBAHASAN .............................................................................
A.
Pengertian Candi
Borobudur ...........................................................
B.
Sejarah Candi Borobudur
..................................................................
C.
Usaha Penemuan dan
Penyelamatan Candi Borobudur ....................
D.
Tahapan Borobudur Dari
Masa ke Masa ..........................................
E.
Peranan Candi Borobudur
Dalam Menunjang Pembangunan .........
F.
Pengembangan Candi
Borobudur ....................................................
G.
Pendapatan Pariwisata
Candi Borobudur .........................................
BAB III PENUTUP ......................................................................................
A.
Kesimpulan .....................................................................................
B.
Saran
..................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................
|
i
ii
iii
iv
1
1
1
2
2
3
3
4
6
7
10
10
11
13
13
13
16
|
CANDI BOROBUDUR DAN PENDAPATANNYA SEBAGAI OBJEK WISATA
Karya
Tulis
Diajukan Sebagai Salah Satu Tugas Kurikuler
Kelas XI Program IPA/IPS SMA Negeri
Jatinunggal
Tahun Pelajaran 2018/2019
Oleh :
1. Razenda
Harhara NISN. 0014693909
2. Thaofik
Hidayat NISN. 0020615780

DINAS PENDIDIKAN PROVINSI JAWA BARAT
SMAN JATINUNGGAL SUMEDANG
![]() |
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Siapa tak kenal Candi Borobudur? Candi Budha
ini memiliki 1460 relief dan 504 stupa Budha di kompleksnya. Jutaan orang
mendamba untuk mengunjungi bangunan yang termasuk dalam World Wonder Heritages
ini. Tak mengherankan, sebab secara arsitektural maupun fungsinya sebagai
tempat ibadah, Borobudur memang memikat hati. Borobudur dibangun oleh Raja
Samaratungga, salah satu raja kerajaan Mataram Kuno, keturunan Wangsa
Syailendra.
Berdasarkan prasasti Kayumwungan, seorang
Indonesia bernama Hudaya Kandahjaya mengungkapkan bahwa Borobudur adalah sebuah
tempat ibadah yang selesai dibangun 26 Mei 824, hampir seratus tahun sejak masa
awal dibangun. Nama Borobudur sendiri menurut beberapa orang berarti sebuah
gunung yang berteras-teras (budhara), sementara beberapa yang lain mengatakan
Borobudur berarti biara yang terletak di tempat tinggi.Bangunan Borobudur
berbentuk punden berundak terdiri dari 10 tingkat. Tingginya 42 meter sebelum
direnovasi dan 34,5 meter setelah direnovasi karena tingkat paling bawah
digunakan sebagai penahan.
B. Rumusan Masalah
Agar pembahasan sesuai dengan yang di
inginkan penulis dapat tercapai dengan tepat dan benar maka penulis membatasi
masalah sebagai berikut.
1.
Pengertian Candi Borobudur
?
2.
Bagaimana Sejarah Candi
Borobudur ?
3.
Apa Usaha penemuan dan
penyelamatan Candi Borobudur ?
4.
Bagaimana Tahapan Borobudur
dari masa ke masa ?
5.
Bagaimana peranan Borobudur
?
6.
Bagaimana Pengembangan
Candi Borobudur ?
C. Tujuan Penelitian
Dengan di buatnya karya tulis ini, penulis
mempunyai tujuan pokok yang ingin di capai adalah sebagai berikut.
1.
Untuk mengetahui dan
menghayati sejarah berdirinya Candi Borobudur
2.
Sebagai siswa harus tahu
latar belakang di dirikannya Candi Borobudur
3.
Untuk mengetahui makna dan
arti yang terkandung dalam komplek bangunan Candi Borobudur
4.
Mengetahui peranan Candi
Borobudur sebagai objek Wisata
D. Metode Penelitian
Sumber-sumber bahasan yang di gunakan untuk
pembuatan karya tulis ini adalah sebagai berikut.
1.
Metode deskriptif: yaitu
Metode yang menggambarkan masalah yang ada pada masa sekarang
2.
Metode biografi: Yaitu metode
dengan cara meneliti majalah dan media lainya
3.
Metode observasi: yaitu
penulis terjun langsung ke lapangan untuk penelitian agar mudah mendapat data-data
4.
Dan informasi dari beberapa
tokoh masyarakat di sekitar Candi Borobudur
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Candi Borobudur
Candi Borobudur merupakan candi terbesar
kedua setelah Candi Ankor Wat di Kamboja. Borobudur mirip bangunan piramida
Cheops di Gizeh Mesir. Luas bangunan Candi Borobudur 15.129 m2 yang tersusun
dari 55.000 m3 batu, dari 2 juta potongan batu-batuan. Ukuran batu rata-rata 25
cm X 10 cm X 15 cm. Panjang potongan batu secara keseluruhan 500 km dengan
berat keseluruhan batu 1,3 juta ton. Dinding-dinding Candi Borobudur
dikelilingi oleh gambar-gambar atau relief yang merupakan satu rangkaian cerita
yang terususun dalam 1.460 panel. Panjang panel masing-masing 2 meter. Jadi
kalau rangkaian relief itu dibentangkan maka kurang lebih panjang relief
seluruhnya 3 km. Jumlah tingkat ada sepuluh, tingkat 1-6 berbentuk bujur
sangkar, sedangkan tingkat 7-10 berbentuk bundar. Arca yang terdapat di seluruh
bangunan candi berjumlah 504 buah. Sedangkan, tinggi candi dari permukaan tanah
sampai ujung stupa induk dulunya 42 meter, namun sekarang tinggal 34,5 meter
setelah tersambar petir.
Menurut hasil penyelidikan seorang
antropolog-etnolog Austria, Robert von Heine Geldern, nenek moyang bangsa
Indonesia sudah mengenal tata budaya pada zaman Neolithic dan Megalithic yang
berasal dari Vietnam Selatan dan Kamboja. Pada zaman Megalithic itu nenek
moyang bangsa Indonesia membuat makam leluhurnya sekaligus tempat pemujaan
berupa bangunan piramida bersusun, semakin ke atas semakin kecil. Salah satunya
yang ditemukan di Lebak Sibedug Leuwiliang Bogor Jawa Barat. Bangunan serupa
juga terdapat di Candi Sukuh di dekat Solo, juga Candi Borobudur. Kalau kita
lihat dari kejauhan, Borobudur akan tampak seperti susunan bangunan berundak
atau semacam piramida dan sebuah stupa.
Berbeda dengan piramida raksasa di Mesir dan
Piramida Teotihuacan di Meksiko Candi Borobudur merupakan versi lain bangunan
piramida. Piramida Borobudur berupa kepunden berundak yang tidak akan ditemukan
di daerah dan negara manapun, termasuk di India. Dan itulah salah satu
kelebihan Candi Borobudur yang merupakan kekhasan arsitektur Budhis di
Indonesia.
Melihat kemegahan bangunan Candi Borobudur
saat ini dan candi-candi lainnya di Indonesia telah memberikan pengetahuan yang
besar tentang peradaban bangsa Indonesia. Berbagai ilmu pengetahuan terlibat
dalam usaha rekonstruksi Candi Borobudur yang dilakukan oleh Teodhorus van Erp.
Kita patut menghargai usaha-usahanya mengingat berbagai kendala dan kesulitan
yang dihadapi dalam membangun kembali candi ini.
Sampai saat ini ada beberapa hal yang masih
menjadi bahan misteri seputar berdirinya Candi Borobudur, misalnya dalam hal
susunan batu, cara mengangkut batu dari daerah asal sampai ke tempat tujuan,
apakah batu-batu itu sudah dalam ukuran yang dikehendaki atau masih berupa
bentuk asli batu gunung, berapa lama proses pemotongan batu-batu itu sampai
pada ukuran yang dikehendaki, bagaimana cara menaikan batu-batu itu dari dasar
halaman candi sampai ke puncak, alat derek apakah yang dipergunakan? Mengingat
pada masa itu belum ada gambar biru (blue print), lalu dengan sarana apakah
mereka itu kalau hendak merundingkan langkah-langkah pengerjaan yang harus
dilakukan, dalam hal gambar relief, apakah batu-batu itu sesudah bergambar lalu
dipasang, atau batu dalam keadaan polos baru dipahat untuk digambar. Dan mulai
dari bagian mana gambar itu dipahat, dari atas ke bawah atau dari bawah ke
atas? Dan masih banyak lagi misteri yang belum terungkap secara ilmu
pengetahuan, terutama tentang ditemukannya ruang pada stupa induk candi.
B. Sejarah Candi Borobudur
Candi Borobudur dibangun sekitar tahun 800
sebelum masehi atau abad ke 9. Borobudur dibangun oleh pengikut Buddha Mahayana
pada masa pemerintahan Dinasti Dinasti. Candi ini dibangun pada masa kejayaan
dinasti dinasti. Pendiri Candi Borobudur, Raja Samaratungga dari atau dinasti
dinasti dinasti. Kemungkinan candi ini dibangun sekitar 824 AD dan selesai
sekitar 900 Masehi pada masa pemerintahan Ratu Pramudawardhani putri
Samaratungga. Sementara arsitek yang membantu membangun candi ini untuk cerita
turun-temurun bernama Gunadharma.
Borobudur kata-kata sendiri berdasarkan bukti
tertulis pertama yang ditulis oleh Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur
Jenderal Britania Raya di Jawa, yang memberikan nama candi ini. Tidak ada bukti
tertulis bahwa orang tua yang memberikan nama ini Candi Borobudur. Hanya satu
dokumen tertua yang menunjukkan adanya candi ini Nagarakretagama buku yang
ditulis oleh MPU tahun 1365 Prapanca Buku tersebut ditulis bahwa candi ini
digunakan sebagai tempat untuk meditasi Buddhis.
Arti dari "biara di pegunungan"
nama Borobudur yang berasal dari kata "bara" (candi atau biara) dan
"beduhur" (bukit atau tanah tinggi) di sansekerta. Oleh karena itu,
sesuai dengan arti nama Borobudur, maka tempat ini sejak dahulu digunakan
sebagai tempat ibadah Buddha.
Candi ini selama berabad-abad tidak lagi
digunakan. Jadi, karena letusan gunung berapi, menutupi sebagian besar bangunan
Borobudur tanah vulkanik. Selain itu, bangunan juga ditutupi dengan berbagai
pepohonan dan semak belukar selama berabad-abad. Kemudian bangunan candi ini
mulai terlupakan dalam waktu Islam datang ke Indonesia sekitar abad ke-15.
Pada tahun 1814, ketika Inggris menduduki
Indonesia, Sir Thomas Stamford Raffles mendengar tentang penemuan benda
arkeologi besar di desa Bumisegoro Kabupaten Magelang. Karena minat yang besar
dalam sejarah Jawa, dan kemudian segera memerintahkan Raffles HC Cornelius,
seorang insinyur Belanda, untuk menyelidiki lokasi penemuan itu berupa bukit
yang dipenuhi semak belukar.
Cornelius dibantu oleh sekitar 200 orang
jatuh pepohonan dan menyingkirkan semak yang menutupi bangunan raksasa. Karena
bangunan sudah rapuh dan bisa runtuh, kemudian melaporkan kepada Kornelius
penemuan Raffles berisi beberapa gambar. Sejak penemuannya, adalah Raffles
bernama pria yang memulai pemugaran Candi Borobudur dan mendapat perhatian
dunia. Pada tahun 1835, seluruh kawasan candi telah digali. Candi ini diadakan
kembali di era kolonial Belanda.
Setelah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1956
Pemerintah Indonesia meminta bantuan dari UNESCO untuk memeriksa kerusakan
Borobudur. Jadi, pada tahun 1963. Dari keputusan Pemerintah Indonesia resmi
untuk melaksanakan pemugaran Candi Borobudur oleh UNESCO ini namun dipulihkan
hanya benar-benar mulai terjadi pada tanggal 10 Agustus 1973. Proses renovasi
baru selesai pada tahun 1984. Sejak tahun 1991, ditunjuk Borobudur sebagai
Dunia atau World Heritage Site oleh UNESCO.
C. Usaha Penemuan dan
Penyelamatan Candi
Borobudur yang menjadi keajaiban dunia
menjulang tinggidi antara dataran rendah di sekelilingnya Tidak akan pernah
mamasuk akal mereka melihat karya seni terbesar yang merupakan hasil karya
sangat mengagumkan dan tidak lebih masuk akal lagi bila di katakan Candi
Borobudur pernah mengalami kerusakan
Memang demikian keadaannya Candi Borobudur
terlupakan selama tenggang waktu yang cukup lama bahkan sampai berabad-abad
bangunan yang begitu megahnya di hadapkan pada proses kehancuran. Kira-kira
hanya 150 tahun Candi Borobudur di gunakan sebagai pusat Ziarah, waktu yang
singkat di bandingkan dengan usianya ketika pekerja menghiasi / membangun bukit
alam Candi Borobudur dengan batu-batu di bawah pemerintahan yang sangat
terkenal yaitu SAMARATUNGGA, sekitar tahun 800-an dengan berakhirnya kerajaan
Mataram tahu 930 M pusat kehidupan dan kebudayaan jawa bergeser ke timur
Demikian karena terbengkalai tak terurus maka
lama-lama di sana-sini tumbuh macam-macam tumbuhan liar yang lama kelamaan
menjadi rimbun dan menutupi bangunannya. Pada kira-kira abad ke-10 Candi
Borobudur terbengkalai dan terlupakan.
Baru pada tahun 1814 M berkat usaha Sir
Thomas Stamford Rafles Candi Borobudur muncul dari kegelapan masa silam. Rafles
adalah Letnan Gubernur Jendral Inggris, ketika Indonesia di kuasai / di jajah
Inggris pada tahun 1811 M-1816 M.
Pada tahun 1835 M seluruh candi di bebaskan
dari apa yang menjadi penghalang pemandangan oleh Presiden kedua yang bernama
Hartman, karen begitu tertariknya terhadap Candi Borobudur sehingga ia mengusahakan
pembersihan lebih lanjut, puing-puing yang masih menutupi candi di sigkirkan dan
tanah yang menutupi lorong-lorong dari bangunan candi di singkirkan semua
shingga candi lebih baik di bandingkan sebelumnya.
Semenjak Candi Borobudur di temukan dimulailah
usaha perbaikan dan pemugaran kembali bangunan Candi Borobudur mula-mula hanya
dilakukan secara kecil-kecilan serta pembuatan gambar-gambar dan photo-photo
reliefnya. Pemugaran Candi Borobudur yang pertam kali di adakan pada tahun 1907
M-1911 M di bawah pimpinan Th Van erf dengan maksudnya adalah untuk menghindari
kerusakan-kerusakan yang lebih besar lagi dari bangunan Candi Borobudur
walaupun banyak bagian tembok atau dinding – dinding terutam tingkat tiga dari
bawah sebelah Barat Laut, Utara dan Timur Laut yang masih tampak miring dan
sangat mengkhawatirkan bagi para pengunjungmaupun bangunannya sendiri namun
pekerjaan Van Erp tersebut untuk sementara Candi Borobudur dapat dsi selamatkan
dari kerusakan yang lebih besar.
Mengenai gapura-gapura hanya beberapa saja
yang telah di kerjakan masa itu telah mengembalikan kejayaan masa silam, namun
juga perlu di sadari bahwa tahun-tahun yang di lalui borobudur selama
tersembunyi di semak-semak secara tidak langsung telah menutupi adan melindungi
dari cuaca buruk yang mungkin dapat merusak bangunan Candi Borobudur, Van Erp
berpendapat miring dan meleseknya dinding-dinding dari bangunan itu tidak
sangat membahayakan bangunan itu, Pendapat itu sampai 50 tahun kemudian memang
tidak salah akan tetapi sejak tahun 1960 M pendapat Tn Vanerf itu mulai di
ragukan dan di khawatirkan akan ada kerusakan yang lebih parah.
D. Tahapan Borobudur dari Masa
ke Masa
Setelah pemugaran besar-besaran pada 1973
yang didukung oleh UNESCO. Borobudur kembali menjadi pusat keagamaan dan ziarah
agama Buddha. Sekali setahun pada saat bulan purnama sekitar bulan Mei atau
Juni, umat Buddha di Indonesia memperingati hari suci Waisak, hari yang
memperingati kelahiran, wafat, dan terutama peristiwa pencerahan Siddhartha
Gautama yang mencapai tingkat kebijaksanaan tertinggi menjadi Buddha
Shakyamuni. Waisak adalah hari libur nasional di Indonesia dan upacara
peringatan dippusatkan di tiga candi Buddha utama dengan ritual berjalan dari
Candi Mendut menuju Candi Pawon dan prosesi berakhir di Candi Borobudur.
Pada 21 Januari 1985, sembilan stupa rusak
parah akibat sembilan bom. Pada 1991 seorang penceramah muslim beraliran
ekstrem yang tunanetra, Husein Ali Al Habsyie, dihukum penjara seumur hidup
karena berperan sebagai otak serangkaian serangan bom pada pertengahan dekade
1980-an, termasuk serangan atas Candi Borobudur. Dua anggota kelompok ekstrem
sayap kanan djatuhi hukuman 20 tahun penjara pada tahun 1986 dan seorang
lainnya menerima hukuman 13 tahun penjara. Sendratari "Mahakarya Borobudur"
digelar di Borobudur.
Monumen ini adalah obyek wisata tunggal yang
paling banyak dikunjungi di Indonesia. Pada 1974 sebanyak 260.000 wisatawan
yang 36.000 diantaranya adalah wisatawan mancanegara telah mengunjungi monumen
ini. Angka ini meningkat hingga mencapai 2,5 juta pengunjung setiap tahunnya
(80% adalah wisatawan domestik) pada pertengahan 1990-an, sebelum Krisis
finansial Asia 1997. Akan tetapi pembangunan pariwisata dikritik tidak
melibatkan masyarakat setempat sehingga beberapa konflik lokal kerap terjadi.
Pada 2003, penduduk dan wirausaha skala kecil di sekitar Borobudur menggelar
pertemuan dan protes dengan pembacaan puisi, menolak rencana pemerintah
provinsi yang berencana membangun kompleks mal berlantai tiga yang disebut
'Java World'. Upaya masyarakat setempat untuk mendapatkan penghidupan dari
sektor pariwisata Borobudur telah meningkatkan jumlah usaha kecil di sekitar
Borobudur. Akan tetapi usaha mereka untuk mencari nafkah seringkali malah
mengganggu kenyamanan pengunjung. Misalnya pedagang cenderamata asongan yang
mengganggu dengan bersikeras menjual dagangannya; meluasnya lapak-lapak pasar
cenderamata sehingga saat hendak keluar kompleks candi, pengunjung malah
digiring berjalan jauh memutar memasuki labirin pasar cenderamata. Jika tidak
tertata maka semua ini membuat kompleks candi Borobudur semakin semrawut.
Pada 27 Mei 2006, gempa berkekuatan 6,2 skala
mengguncang pesisir selatan Jawa Tengah. Bencana alam ini menghancurkan kawasan
dengan korban terbanyak di Yogyakarta, akan tetapi Borobudur tetap utuh.
Pada 28 Agustus 2006 simposium bertajuk Trail
of Civilizations (jejak peradaban) digelar di Borobudur atas prakarsa Gubernur
Jawa Tengah dan Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan, juga hadir perwakilan
UNESCO dan negara-negara mayoritas Buddha di Asia Tenggara, seperti Thailand,
Myanmar, Laos, Vietnam, dan Kamboja. Puncak acara ini adalah pagelaran
sendratari kolosal "Mahakarya Borobudur" di depan Candi Borobudur.
Tarian ini diciptakan dengan berdasarkan gaya tari tradisional Jawa, musik
gamelan, dan busananya, menceritakan tentang sejarah pembangunan Borobudur.
Setelah simposium ini, sendratari Mahakarya Borobudur kembali dipergelarkan
beberapa kali, khususnya menjelang peringatan Waisak yang biasanya turut
dihadiri Presiden Republik Indonesia. Batu peringatan pemugaran candi Borobudur
dengan bantuan UNESCO.
UNESCO mengidentifikasi tiga permasalahan
penting dalam upaya pelestarian Borobudur: vandalisme atau pengrusakan oleh
pengunjung; erosi tanah di bagian tenggara situs; analisis dan pengembalian bagian-bagian
yang hilang. Tanah yang gembur, beberapa kali gempa bumi, dan hujan lebat dapat
menggoyahkan struktur bangunan ini.
Gempa bumi adalah faktor yang paling parah,
karena tidak saja batuan dapat jatuh dan pelengkung ambruk, tanah sendiri
bergerak bergelombang yang dapat merusak struktur bangunan. Meningkatnya
popularitas stupa menarik banyak pengunjung yang kebanyakan adalah warga
Indonesia. Meskipun terdapat banyak papan peringatan untuk tidak menyentuh
apapun, pengumandangan peringatan melalui pengeras suara dan adanya penjaga,
vandalisme berupa pengrusakan dan pencorat-coretan relief dan arca sering
terjadi, hal ini jelas merusak situs ini. Pada 2009, tidak ada sistem untuk
membatasi jumlah wisatawan yang boleh berkunjung per hari, atau menerapkan tiap
kunjungan harus didampingi pemandu agar pengunjung selalu dalam pengawasan.
E. Peranan Borobudur dalam
Menunjang Pembangunan
Bentuk bangunan candi Borobudur merupakan
perpaduan antara kebudayaan asli Indonesia dan kebudayaan India. Penyebaran
kebudayaan di candi Borobudur menghasilkan Akulturasi, Asimilasi, atau
Sintesis. Akulturasi adalah bersatunya dua kebudayaan sehingga membentuk
kebudayaan baru tanpa menghilangkan unsur kebudayaan asli. Asimilasi adalah
bercampurnya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru. Sedangkan
Sintesis adalah bercampurnya dua kebudayaan yang berakibat pada terbentuknya
sebuah kebudayaan baru yang sangat berbeda dengan kebudayaan asli.
Masuknya pengaruh kebudayaan Budha dari candi
Borobudur tidak mengakibatkan konflik di masyarakat, melainkan memperkaya
khasanah budaya masyarakat setempat. Dan pengaruh kebudayaan dari candi
Borobudur juga tidak mengakibatkan hilangnya unsur-unsur asli budaya
masyarakat.
Kalau kita lihat dari kejauhan, Borobudur
akan tampak seperti susunan bangunan berundak atau semacam piramida dan sebuah
stupa. Hal tersebut merupakan salah satu kelebihan candi Borobudur yang
merupakan ciri khas arsitektur candi Borobudur. Candi Borobudur mempunyai
bangunan-bangunan yang khas, seperti stupa, relief, patung Budha, dan
lain-lain, yang mengakibatkan terciptanya keanekaragaman bangunan yang ada di
candi Borobudur sehingga memiliki nilai seni yang sangat tinggi dan memberi
simbol bahwa candi Borobudur menampung khasanah seni budaya di Indonesia.
Sehingga candi Borobudur memiliki peranan dalam memajukan khasanah budaya di
Indonesia.
F. Pengembangan Candi
Borobudur
Pengembangan Candi Borobudur di mulai tanggal
10 Agustus 1973 prasati dimulainya pekerjaan pemugaran Candi Borobudur terletak
di sebelah Barat Laut Menghadap ke timur karyawan pemugaran tidak kurang dari
600 orang diantaranya ada tenaga-tenaga muda lulusan SMA dan SIM bangunan yang
memang diberikan pendidikan khususnya mengenai teori dan praktek dalam bidang
Chemika Arkeologi ( CA ) dan Teknologi Arkeologi ( TA )
Teknologi Arkeologi bertugas membongkar dan
memasang batu - batu Candi Borobudur sedangkan Chemika Arkeologi bertugas
membersihkan serta memperbaiki batu-batu yang sudah retak dan pecah, pekerjaan
– pekerjan di atas bersifat arkeologi semua di tangani oleh badan pemugaran
Candi Borobudur, sedangkan pekerjaan yang bersifat teknis seperti penyediaan transportasi
pengadaaan bahan-bahan bangunan di tangani oleh kontraktor ( PT NIDYA KARYA dan
THE CONTRUCTION AND DEVELOPMENT CORPORATION OF THE FILIPINE ).
Bagian-bagian Candi Borobudur yang di pugar
ialah bagian Rupadhatu yaitu tempat tingkat dari bawah yang berbentuk bujur
sangkar sedangkan kaki Candi Borobudur serta teras I, II, III dan stupa induk
ikut di pugar pemugaran selesai pada tanggal 23 Februari 1983 M di bawah
pimpinan DR Soekmono dengan di tandai sebuah batu prasati seberat + 20 Ton.
Prasasti peresmian selesainya pemugaran berada di halaman
barat dengan batu yang sangat besar di buatkan dengan dua bagian satu menghadap
ke utara satu lagi menghadap ke timur penulisan dalam prasasti tersebut di
tangani langsung oleh tenaga yang ahli dan terampil dari Yogyakarta yang
bekerja pada proyek pemugaran Candi Borobudur.
G. Pendapatan Pariwisata Candi
Borobudur
PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan
& Ratu Boko, BUMN yang dipercaya mengelola ketiga candi di Jateng dan DIY,
pesimistis target pendapatan Borobudur dan Prambanan tahun ini tercapai.
Menurut Direktur Pemasaran PT Taman Wisata
Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko, Agus H. Canny seperti yang dikutip
dari bisnis.com mengatakan untuk 2011 pemasukan targetnya Rp140 miliar
dengan laba Rp30 miliar. Diperkirakan target tak terpenuhi, hanya sekitar
60-70% saja. “Sepanjang tahun lalu jumlah pengunjung kedua candi tersebut
mencapai 4 juta orang dengan jumlah terbesar, mencapai 60% ke Borobudur di
Magelang, Jateng dan 40% ke Prambanan di Yogyakarta,” ujarnya.
Dikatakan, dari jumlah pengunjung tersebut
itu pendapatan total PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko
mencapai Rp120 miliar dengan laba sekitar 20 miliar. Meski demikian kontribusi
penghasilan terbesar justru didapat dari wisatawan lokal yang mencapai
60% sementara wisatawan asing hanya 40%. “Rendahnya kunjungan wisatawan asing
disebabkan rendahnya pengetahuan warga dunia atas Borobudur dan Prambanan.
Manajemen malah mendapati biro wisata di sejumlah negara di Asia mengatakan
Borobudur berada di Thailand,” katanya.
Berdasarkan survey yang dilakukan saat
kunjungan manajemen ke sejumlah negara Asia, banyak tour guide belum
tahun tentang Candi Borobudur, bahkan saat berkunjung ke India dan Korea, tidak
ada satupun yang tahu. "Saat di Malaysia hanya sekitar 5% yang tahu,
demikian juga di Jepang. Thailand hanya diketahui 3% saja. Ketidaktahuan tour
guide mengenai Candi Borobudur memang membuat kunjungan wisatawan dari
negara tetangga tersebut sangat minim sekali. Yang menarik candi kebanggan
masyarakat Indonesia justru lebih banyak didatangi masyarakat Eropa,”
ungkapnya.
Ditambahkannya, dari 400 ribu kunjungan turis
justru didominasi warga negara Belanda, Perancis, Jerman, lalu disusul Malaysia
dan Singapura. Untuk itu perlu tanggungjawab semua pihak untuk lebih
mengenalkan Candi Borobudur ke masyarakat asing.
Agus mencatat kunjungan wisatawan ke
Borobudur per hari mencapai 10.000 orang yang akan meningkat hingga 18.000 pada
saat musim libur panjang sekolah dan Lebaran sementara jika sepi kunjungan ke
Borobudur hanya mencapai 3.000-4.000 orang. Tiket masuk Borobudur untuk
wisatawan asing dipatok US$ 14-15, sedangkan wisatawan lokal hanya
Rp25.000.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari semua masalah tentang sejarah brdirinya
Candi Borobudur ini ternyata dapat di ambil kesimpulan sebagai berikut:
Waktu didirikannya Candi Borobudur tidaklah
dapat diketahui dengan pasti namun suatu perkiraan dapat di peroleh dengan
tulisan singkat yang di pahatkan di atas pigura relief kaki asli Candi
Borobudur ( Karwa Wibhangga ) menunjukan huruf sejenis dengan yang di dapatkan
dari prasati di akhir abad ke – 8 sampai awal abad ke – 9 dari bukti – bukti
tersebut dapat di tarik kesimpulan bahwa Candi Borobudur di dirikan sekitar
tahun 800 M.
Borobudur terletak di Kecamatan Borobudur
Kabupaten Magelang yang letaknya sebelah selatan + 15 km sebelah selatan kota
Magelang dataran kedu yang berbukit hampir seluruhnya di kelilingi pegunungan,
pegunungan yang mengelilingi Candi Borobudur di antaranya di sebelah timur
terdapat Gunung Merbabu dan Gunung Merapi Barat, Laut Gunung Sumbing dan Gunung
Sindoro.
Nama Borobudur berasal dari gabungan kata
Boro dan Budur, Boro berasal dari kata Sangsekerta berarti “ Vihara” yang
berarti komplek Candi dan Bihara atau juga asrama (Menurut Purwacaraka Dan
Stuten Herm) sedangkan Budur dalam bahasa Bali “ Bedudur” yang artinya di Atas.
Jadi nama Borobudur berarti asrama atau bahasa (Komplek Candi) yang terletak di
atas bukit.
B. Saran
Dari pembuatan karya tulis ini penulis akan
menyajikan beberapa saran diantaranya sebagai berikut.
1.
Kita sebagai generasi muda
harus menadi generasi penerus bangsa dengan cara giat belajar dan berlatih
supaya menjadi siswa – siswi yang terampil dan bertaqwa
2.
Kita sebagai warga negara
harus menjaga dan melestarikan bdaya bangsa dengan memelihara tempat – tempat bersejarah
sebagai peninggalan nenek moyang kita
3.
Penulis berharap dengan
berkembangnya kebudayaan barat di harapkan pada rekan generasi muda mampu
memilih dan menilia budaya yang masuk dan berusaha mempertahankan kebudayaan
bangsa sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
KATA PENGANTAR
Puji sukur kami panjatkan kehadirat Allah
SWT, karena atas karunia-Nya kami dapat menyelesaikan tugas ini.
Makalah ini di menyajikan rangkuman materi
tentang “CANDI BOROBUDUR “. Borobudur adalah salah satu dari 7 keajaiban
dunia, yang dimiliki oleh negara kita Indonesia, yang merupakan warisan dari
sejarah bangsa Indonesia.
Kami tidak lupa mengucapkan terima kasih
kepada orang-oarang yang ikut membantu terutama orang tua dalam segi materi dan
pada guru yang telah membimbing kami.
Dan juga kami mohon maaf sebesar-besarnya
karena sebaik-baiknya kami mengerjakan makalah ini pasti ada kesalahan tapi
kami sudah berusaha semaksimal mungkin.
Mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfa’at
bagi orang yang membaca khususnya kami yang mwmbuatnya. Amin.
Jatinunggal,
April 2019
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .....................................................................................
LEMBAR PENGESAHAN
...........................................................................
KATA PENGANTAR ................................................................................
DAFTAR ISI .................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN ..............................................................................
A.
Latar
Belakang ...................................................................................
B.
Rumusan Masalah ..............................................................................
C.
Tujuan Penelitian ...............................................................................
D.
Metode Penelitian ..............................................................................
BAB II PEMBAHASAN .............................................................................
A.
Pengertian Candi
Borobudur ...........................................................
B.
Sejarah Candi Borobudur
..................................................................
C.
Usaha Penemuan dan
Penyelamatan Candi Borobudur ....................
D.
Tahapan Borobudur Dari
Masa ke Masa ..........................................
E.
Peranan Candi Borobudur
Dalam Menunjang Pembangunan .........
F.
Pengembangan Candi
Borobudur ....................................................
G.
Pendapatan Pariwisata
Candi Borobudur .........................................
BAB III PENUTUP ......................................................................................
A.
Kesimpulan .....................................................................................
B.
Saran
..................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................
|
i
ii
iii
iv
1
1
1
2
2
3
3
4
6
7
10
10
11
13
13
13
16
|
CANDI BOROBUDUR DAN PENDAPATANNYA SEBAGAI OBJEK WISATA
Karya
Tulis
Diajukan Sebagai Salah Satu Tugas Kurikuler
Kelas XI Program IPA/IPS SMA Negeri
Oleh :
DINAS PENDIDIKAN PROVINSI JAWA BARAT
![]() |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar